Gadis itu terlihat polos dan naif, ya! Naif.
Kenaifannya membuat semua orang terpikat kepadanya. Kepolosan seperti anak
kecil yang ia ciptakan berjalan begitu saja seiring ia berjalan menyusuri
waktu. Tetapi ada satu hal yang memmbuat aku tertarik mengangkat cerita tentang
gadis ini, dibalik kenaifan dan kepolosannya, ia tak pernah mau menyapa atau
menatapku seperti adik tingkat yang lainnya.
Ini yang membuat aku semakin penasaran kepada
gadis ini, dia tak pernah mau bertegur sapa denganku, ia tak pernah mau aku
masuki lingkaran itu. Lingkaran dimana ia memasukkan semua orang baru
didalamya.
Siang itu hari dimana aku memakai rok panjang
untuk kesekian kali ke kampus. Teriknya matahari membuat perut ini semakin
berteriak bahwa ia membutuhkan asupan makanan. Akupun pergi kekantin dimana
setiap mahasiswa menghabiskan sepauh waktunya untuk melahap dan menyantap
beberapa makanan yang akan mengisi perut mereka. Karena semua tempat duduk
penuh aku dan temanku menemukan dua orang anak baru sedang menduduki meja yang
sebagian lagi kosong. Maka aku menminta dengan ramah untuk duduk di tempat itu
dan dua gadis itu mengangguk. Aku tahu persis bahwa salah satu gadis yang waktu
itu semeja denganku adalah anak baru itu.
Tanpa berkata apapun dan gadis itu pergi
setelah menyelesaikan makanannya. Aku tidak mengerti kenapa ia begitu sombong
dan judes ketika melihat wajahku, sampai saat ini. Perlakuan yang berbeda
datang dari teman – temannya, mereka bersikap seperti biasa, menganggapku kakak
mereka dan bersikap ramah tetapi gadis ini amat sangat membuatku penasaran,
kenapa ia begitu judes dan selalu memasang wajah yang berbeda ketika melihat
wajahku. Apa ia membenciku? Tetapi bila ia membenci ku, apa alasannya? Mungkin
suatu hari nanti aku akan mengetahui jawabannya.
Gadis naif dan polos tapi bermuka dua. Cukup
menarik perhatian.
