Masih tentang anak petani. Dipandangnya
minyak kayu putih berwarna hijau lalu dibalurkannya minyak itu ke badannya
sendiri. Dengan pilu, anak petani berkata dalam hati, “meski aku tidak pernah
merasakannya secara real, aku tahu, dia menyayangiku seperti dia menyayangi
anaknya yang lain”.
“Kenapa tidak terasa hangat yah? Apa karena
minyak kayu putih ini sudah kadarluarsa?” tanya si anak petani dalam hati.
Sembari tersenyum miris anak petani berpikir bahwa “aku sudah besar sekarang,
minyak seperti ini mana mungkin bisa membuat tubuhku hangat?! Bodoh!!aku seudah
besar sekarang, minyak seperti ini mana mungkin bisa membuat tubuhku hangat?!
Bodoh!!aku seudah besar sekarang, minyak seperti ini mana mungkin bisa membuat
tubuhku hangat?! Bodoh!”.
Wajahnya sedikit berbeda dari enam tahun yang
lalu terakhir kali aku melihatnya. Melihat wajahnya membuatku sedih, menyentuh
tangannya membuatku sengsara. Perasaan itu kembali datang saat kulit tangannya
menyentuh kepalaku. Perasaan dimana amarah atas konspirasi suatu jati diri
diperkesalkan.
Memandang gambar – gambar di tembok kamarnya
membuatku iri, “kenapa tidak ada gambarku disini? Anak – anak perempuan lain
malah yang dipajang di dinding kamarnya. Alaaaah persetan dengan itu!” pikirku
dalam hati. Tapi perasaan luka sedikit terobati ketika aku lihat raut wajahnya
senang melihat kami dapat mengunjunginya. Apalagi raut wajah kerinduan terhadap
mantan istrinya yang juga datang mengantar anak – anaknya.
Sedikit tapi tidak banyak, kenapa aku sedikit
mengerti sekarang. Mungkin bukan hal yang mudah untuk melupakan kisah selama 27
tahun lamanya, bukan mungkin tapi memang sulit. Tak heran, mereka masih sedikit
menyimpan perasaan nostalgia itu. Waktu serasa berhenti saat aku memandang
wajahnya yang kini tak lagi segar seperti dulu. Muncul banyak pertanyaan yang
harusnya tak kupertanyakan karena mungkin aku sudah tahu apa jawabannya.
Pilu, benar – benar pilu.