Rabu, 20 Juni 2018

My One Night Stand Version


I want to share you about my One Night Stand Story.

Kebanyakan orang mengalami hal ini, maksudnya bagi yang sudah menginjak usia dimana kita sudah mengenal hubungan dengan lawan jenis seperti pacaran, tapi hanya orang “nakal” saja mungkin. But, jangan berpikir terlalu jauh. Ini bukan seperti One Night Stand orang kebanyakan. Aku akan mulai.
Beberapa hari lalu, aku bertemu dengan salah satu mantan pacar saat SMP. Dia masih saja seperti dulu, seperti itu. Singkat cerita aku jadi teringat terakhir kali aku bertemu dengan dia. Kejadian terakhir yang membuat aku selalu kikuk dibuatnya. Aku tak pernah bisa bersikap biasa setelah hari itu. Mungkin dia bisa bersikap biasa tapi tidak bagiku.

Beberapa tahun lalu, tahun pertama aku di perkuliahan mungkin sekitar 7 tahu yang lalu. Kami intens kembali berhubungan via telepon dan sms. Tak banyak yang kami lakukan tapi, malam itu benar-benar membosankan. Kami memutuskan bertemu untuk hanya sekedar nongkrong dan mengobrol.
Dia menjemputku saat sore menjelang malam. Saat itu adalah saat dimana aku sama sekali tak punya jati diri. Ibuku tak akan menanyakan aku sedang dimana atau dengan siapa. Dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri mungkin atau memang aku telah dipercaya menjadi anak yang dewasa.

Tak banyak yang aku pikirkan. Aku tak berpikir apa bahayanya bila aku pergi dengan seorang lelaki dimalam hari. Kami hanya mengobrol sana sini, miinum secangkir susu murni dan jam ternyata sudah menunjukan 11 malam. Aku sama sekali tak mau pulang karena saat itu, rumah adalah tempat paling membosankan di dunia. Tak ada yang bisa aku lakukan dirumah.

Diapun menawarkan aku untuk ikut ke tempat dimana dia kost. Akupun setuju, karena yang aku pikirkan saat itu adalah bersenang-senang. Tibanya di tempat kost, kami hanya mengobrol kembali dan saling bercanda. Tapi aku tak bisa berbohong, aku takut, aku ingin pulang karena hanya ada aku dan dia di kamar kost itu. Akupun tak bisa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya karena malam masih sangat panjang.

Dia mematikan lampu kamar dan akupun sadar saat itu kami sudah berbaring saling berhadapan, dia menyentuh pipiku lalu berkata “Aku ga pernah ngerti kenapa kamu minta kita putus, dengan alas an beda agama? Aku bener2 ga paham! Yang aku tau, aku masih suka kamu” and he kissed me on the cheek. Aku langsung membalikkan badan dan tak mengeluarkan kata apapun. Yang pasti dia tahu bahwa aku tak mau membahas itu. Dia memutar lagu Naif benci Untuk Mencinta dan mengantarkan aku tidur.

Saat fajar tiba, aku bangun segera karena aku ada kelas pagi hari itu. Dia mengantarkanku pulang. Setelah kejadian itu, aku sama sekali tak berani untuk membalas pesan atau apapun darinya. Aku tak tahu apakah itu perasaan takut atau apa yang pasti, aku hampir saja melakukan hal fatal malam itu. Hampir saja.


Jumat, 02 Februari 2018

Sebentar Lagi

Saatnya membuat pertunjukan lagi.

Entah apa yang akan sutradara tampilkan dia sendiri masih belum tahu. Kenapa? Karena sudah lama sang sutradara tak melakukan casting untuk mencari pemain baru. Dia sudah mencoba tapi, kelihatanya dia kehilangan passion untuk melakukan pertunjukan baru. Sutradara terlihat lelah tapi bosan. Tak banyak yang dapat dia lakukan. Dua tahun ini dia hanya makan sereal setiap pagi dan pergi menonton drama saat sore. Dan saat malam tiba, dia akan menatap langit untuk memperhatikan bintang atau bulan atau awan atau… langit yang kosong.

Sama sekali tak bisa dibaca apa yang sebenarnya ia ingin lakukan. Setelah berhenti dengan Anak Petani beberapa tahun lalu, dia masih juga tak menggerakan bolpoin yang setiap hari dia pegang. Beberapa orang datang beberapa bulan kemarin untuk melakukan casting tapi, sama sekali tak ada satupun yang sutradara pilih. Dia malah menyuruh mereka pulang.
Malam ini, dia ambil kembali bolpoin merah yang biasa dia pakai untuk menulis naskah, disampingnya terlihat kertas sketsa berwarna coklat yang sama sekali tak ia sentuh lalu dia memandang langit yang sedang mendung dari atas gedung dengan tatapan bertanya. Setelah beberapa lama, dia ambil tumpukan kertas coklat itu dan mulai menulis sesuatu.

“Waktunya sudah hampir tiba..” gumamnya sembari menyimpan kembali tumpukan kertas coklat beserta bolpoinnya.

Ditempat yang berbeda, seorang perempuan sedang berdiri diam di atas panggung kosong. Tak terdengar sedikit pun suara aula tersebut, hanya suara nafas nya yang sesekali dia tarik lalu dibuang dengan terpaksa tanda putus asa. “Aku ingin bermain lagi. Kenapa sang sutradara tak menulis naskah dan melakukan pertunjukan lagi, meski akan sedikit penonton yang datang, aku tetap akan ikut casting dan berusaha mendapatkan peran utama” bilangnya pada kursi penonton yang kosong. Tak berselang beberapa menit, diapun menari dalam sepi.