Senin, 31 Maret 2014

MonSun

Ucapan bocah bernama Dimas tadi membuat aku berpikir, bagaimana caranya seseorang bisa sadar atau tahu jika dia akan merasa kehilangan saat orang yang setiap hari cerewet tidak lagi cerewet. Mencari tahu apakah kita berharga atau tidak bagi orang lain sedikit sulit untuk keadaan seperti ini.

Kenapa pria tadi tidak mengenakan alas kaki ditempat seperti ini, ok! Sepertinya temannya juga. Sebelah kiri sana beberapa pasangan sedang menikmati makan siangnya seraya memandang jalanan yang padat merayap. Sebelah kananku, terlihat keluarga besar yang sedang menikmati obrolan keluarga yang hangat. Membuat iri saja.

Tempatku duduk memang startegis. Aku dapat melihat keadaan di sekelilingku dengan jelas. Cuaca yang mendung didukung jalanan yang macet padat membuat setiap orang malas untuk pergi kemanapun. Meski tidak jauh dari keramaian, setidaknya aku dapat berpikir sedikit jernih di sini. Sedikit. Bukan karena pikiranku sedang tak jernih tapi, waktu dimana kita harus merasa sendiri dan menikmatinya dengan diri sendiri terkadang kita butuhkan. Dan prinsip lebih baik kelaparan daripada makan sendiri sudah di hapuskan dari buku besar sekarang.

Tidak sulit untuk menentukan apa yang kita butuhkan dan apa yang kita inginkan. Tapi terkadang sangat sulit untuk tidak melakukan apa yang kita tidak butuhkan tapi kita inginkan.


Melihat pemandangan keluarga kecil dengan dua anak perempuan mereka di depan membuat aku sangat amat cemburu, marah serta kesal. Tapi suatu saat nanti aku akan memilikinya. Suatu hari, aku akan melakukan apa yang tidak aku lakukan bersama keluargaku dulu. Tentunya suatu hari nanti akan jadi hari yang menarik. Lebih menarik dari hari ini atau dulu. Akan aku pastikan semuanya lebih menarik dan menyenangkan.  

Kamis, 20 Maret 2014

Aku dan Hujan

Ini bukan rasa kurang bersyukur karena aku diciptakan sebagai manusia, tapi terkadang aku hanya ingin menjadi hujan.

Banyak yang menyukainya ketika ia datang, tapi tak sedikit juga yang mencaci hingga mengusirnya pergi ketika ia datang. Padahal ia hanya ingin menyentuh keringnya bumi dan menyapa makhluk yang hidup dibawah sini.

Terkadang indah, manis, hangat, dingin, juga ganas. Itulah hujan. Aku berharap aku adalah hujan hari ini. Hari ini hujan terasa hangat dan cantik. Tapi terasa sedikit dingin dan kosong. 

Ada sesuatu yang hilang. Ada sesuatu yang kosong. Hujan, maaf jika aku terkadang mencaci makimu atau mengusirmu. Maaf jika kau pernah tersinggung atas sikapku hujan.


Tentang Puzzle

Di tempat yang ramai tadi, banyak sekali wajah dengan berbagai macam perasaan disana. Terlihat ada wajah gembira karena menemukan sesuatu, ada juga wajah kesal, sedih dan kecewa. Salah satu teman kami sedang berbahagia hari ini, dia genap berumur 21 tahun dan banyak sekali orang yang menyayanginya. Selamat ulang tahun orang jahat!! Haha.. For Andiany Pratiwi.

Di samping kebahagian yang sedang berlangsung tadi, aku melihat kemuraman di salah satu wajah di tempat itu. Ia terlihat kecewa, entah apa yang sedang dipikirkan orang itu. Dia terlihat kesepian dan sepertinya sedang merindukan seseorang, atau mungkin dia sedang menunggu handphone-nya berdering. Ternyata masih ada cerita klasik itu, kesepian ditengah keramaian. Semoga orang itu segera tersenyum tulus, tidak seperti tadi, memaksa tersenyum. Sangat aneh melihatnya seperti itu.

Sampai sekarang aku selalu dikellilingi orang-orang yang aku pikir menyayangi-ku. Bersyukur, terimakasih Tuhan telah memberikan mereka, tapi ada satu orang yang selalu membuat-ku penasaran hingga hari ini. Apa Dia pernah sekali saja mengingatku dalam doa-nya? Apa Dia pernah mengkhawatirkan-ku? Apa Dia pernah merindukan anak tengil ini? 

Aku sudah besar sekarang dan umur-ku hampir 21, apa kau pernah sekali saja mengingat hari kelahiranku? Maaf jika aku terkadang membenci apa yang telah kau turunkan. Warna kulit yang sama, postur tubuh yang mirip, dan tangan yang ternyata dapat menggambar sesuatu yang terkadang indah. Terimakasih sudah memberi-ku semuanya.

Mungkin aku tahu sekarang, dimana potongan puzzle yang selama ini aku cari. Tapi sepertinya aku tidak akan pernah bisa menaruh potongan itu ke dalam puzzle yang mungkin suatu hari akan sempurna. Meski aku sudah sudah tahu dimana potongan puzzle itu berada. 


Waktu-ku untuk keluar dari tahap ini tinggal beberapa langkah lagi. Setelah tahap ini selesai, akan ada tahap baru dimana ujian yang Tuhan berikan akan sedikit, semakin sulit, aku pikir. Tapi semuanya pasti menarik. Tak sabar untuk menantikan apa yang akan terjadi di depan sana.