Inilah
kehidupan dan inilah dunia nyata.
Bukan,
ini bukan benar – benar dunia nyata, masih sedikit fantasi, setengah fantasi
maksudnya. Terasa masih seperti mimpi saat harus berteman dengan rutinitas
setiap hari. Sarapan dengan klason kendaraan, lampu merah, absen dan semuanya
adalah bagian dari rutinitas setiap pagi.
Sesampainya
di tempat berlangsungnya rutinitas, dering telepon dan seperangkat computer menanti
dengan sebegitu sabarnya. Gantungan yang bertuliskan ‘closed’ dibalikan dan took
telah dibuka, ‘open’. Email, chat, medsos jam dinding semuanya bekerja tanpa
henti. Apa mereka tidak lelah?
Jam
pulang dan waktunya berpamitan dengan si rutinitas. Macet, klakson kendaran dan
semuanya seolah menyambut kepulangan teman si rutinitas. Mereka juga tak pernah
lelah bekerja setiap harinya. Kasian. Rutinitas selalu memaksa memaksa mereka
untuk tetap bekerja stiap waktu.
Ingin
berhenti? Pasti tapi, inilah siklus yang berjalan. Keluar dari siklus? Sedikit mungkin,
sedikit. Seperti halnya orang pacaran, pasti bertengkar lalu putus pada
akhirnya meski ada dua kemungkinan, putus lalu menikah atau putus dan hanya
ber-label mantan pacar.
Rodanya
sedang berputar, kalau rodanya dihentikan dan dirusakan, aku akan terus disini
sampai mati nanti.