Last
Sunday was a nightmare, sorry to say this but I don’t
know how to call it.
Hari minggu kemarin teteh pergi. Mamah masih
tertegun tak percaya ketika dokter berkata bahwa teteh sudah tidak ada di
tempatnya. Nadinya sudah tidak berdenyut lagi, cairan infusan kembali mengalir
keluar tanda bahwa tubuh teteh sudah tidak dapat menerima cairan apapun. Mamah masih
takut menerima kenyataan yang ada di depan matanya, dia melarang siapapun
berkata bahwa teteh sudah tiada.
Penyakit yang tidak kenal ampun, menjadikan
tubuh teteh lelah untuk menampung teteh. 19 hari teteh tak sadarkan diri dan
ending yang harus kita terima dengan lapang dada adalah ini. Dinda bilang, ada
sesuatu berbaju putih menunggu teteh sejak semalam. Mungkin memang ini akhir
dari perjalanan hidup teteh. Melihat mamah memandikan teteh sambil menangis
membuat aku tertegun kembali, mamah memandikan teteh dari dia dilahirkan hingga
kembali pada Sang khalik.
Beberapa hari sebelum teteh tak sadarkan
diri, teteh berpesan pada mamah untuk menikahkan anak pertamanya secara
sederhana karena teteh bilang teteh sudah cape dan lelah. Dan semalam sebelum
kepergian teteh, aku bermimpi dengan teteh sambil tertawa bahagia. Dalam mimpi,
teteh terlihat sehat dan cantik seperti biasa. Tapi yang janggal adalah, teteh
memakai baju putih bersinar. Mimpi yang ternyata pertanda.
Saat tiba di rumah sakit, aku melihat mamah
masih duduk terdiam disamping jasad teteh. Aku mendekat dan menyentuh tangan
teteh yang terasa masih hangat. Selang oksigen dan infusan belum juga dicabut
karena mamah bilang teteh pingsan atau tertidur. Mamah masih belum juga percaya
sampai kakaknya datang dan berkata bahwa teteh benar – benar sudah pergi. Baru mamah
sadar bahwa yang terjadi di depan matanya ternyata bukan mimpi.
Setelah shalat ashar teteh di shalat-kan lalu
segera dimakamkan. Ditengah derasnya hujan kami melihat jasad teteh di kebumikan.
Masih terasa seperti mimpi. Aku dan Dinda, anak kedua teteh adalah orang
terakhir yang meninggalkan makam. Aku mengingatkan Dede, begitu Dinda di
panggil untuk menghitung langkah kami. Satu, dua, tiga, hingga langkah ke enam
menuju ke tujuh kami saling berpandangan lalu aku mengangguk untuk meneruskan
langkah ke tujuh. Setelah itu Dede berkata bahwa ibunya tadi ada di depannya
ketika dia membacakan Yasin di makam. Dede memang sedikit berbeda.
Lalu aku bertanya, “pake baju apa de ibu?”, “pake
baju kuning kaya yang di foto”. Ada sedikit perasaan sakit hati saat mendengar
itu, entah kenapa. Meski teteh belum diberi kebahagiaan yang benar-benar
bahagia selama hidupnya, tapi kami percaya bahwa teteh akan mendapatkan apa
yang tidak teteh dapatkan disana. Kami, terutama aku percaya teteh akan diberi
tempat terbaik disana, Amin.
Selamat jalan teteh, entah kita akan akan
bertemu kembali atau tidak yang pasti kami selalu mendoakan teteh mendapat
kebahagiaan disana, dia alam yang kekal dan abadi. Kami sayang teteh.