Sabtu, 18 Januari 2014

January 19, 2014

Last Sunday was a nightmare, sorry to say this but I don’t know how to call it.

Hari minggu kemarin teteh pergi. Mamah masih tertegun tak percaya ketika dokter berkata bahwa teteh sudah tidak ada di tempatnya. Nadinya sudah tidak berdenyut lagi, cairan infusan kembali mengalir keluar tanda bahwa tubuh teteh sudah tidak dapat menerima cairan apapun. Mamah masih takut menerima kenyataan yang ada di depan matanya, dia melarang siapapun berkata bahwa teteh sudah tiada.

Penyakit yang tidak kenal ampun, menjadikan tubuh teteh lelah untuk menampung teteh. 19 hari teteh tak sadarkan diri dan ending yang harus kita terima dengan lapang dada adalah ini. Dinda bilang, ada sesuatu berbaju putih menunggu teteh sejak semalam. Mungkin memang ini akhir dari perjalanan hidup teteh. Melihat mamah memandikan teteh sambil menangis membuat aku tertegun kembali, mamah memandikan teteh dari dia dilahirkan hingga kembali pada Sang khalik.

Beberapa hari sebelum teteh tak sadarkan diri, teteh berpesan pada mamah untuk menikahkan anak pertamanya secara sederhana karena teteh bilang teteh sudah cape dan lelah. Dan semalam sebelum kepergian teteh, aku bermimpi dengan teteh sambil tertawa bahagia. Dalam mimpi, teteh terlihat sehat dan cantik seperti biasa. Tapi yang janggal adalah, teteh memakai baju putih bersinar. Mimpi yang ternyata pertanda.

Saat tiba di rumah sakit, aku melihat mamah masih duduk terdiam disamping jasad teteh. Aku mendekat dan menyentuh tangan teteh yang terasa masih hangat. Selang oksigen dan infusan belum juga dicabut karena mamah bilang teteh pingsan atau tertidur. Mamah masih belum juga percaya sampai kakaknya datang dan berkata bahwa teteh benar – benar sudah pergi. Baru mamah sadar bahwa yang terjadi di depan matanya ternyata bukan mimpi.

Setelah shalat ashar teteh di shalat-kan lalu segera dimakamkan. Ditengah derasnya hujan kami melihat jasad teteh di kebumikan. Masih terasa seperti mimpi. Aku dan Dinda, anak kedua teteh adalah orang terakhir yang meninggalkan makam. Aku mengingatkan Dede, begitu Dinda di panggil untuk menghitung langkah kami. Satu, dua, tiga, hingga langkah ke enam menuju ke tujuh kami saling berpandangan lalu aku mengangguk untuk meneruskan langkah ke tujuh. Setelah itu Dede berkata bahwa ibunya tadi ada di depannya ketika dia membacakan Yasin di makam. Dede memang sedikit berbeda.

Lalu aku bertanya, “pake baju apa de ibu?”, “pake baju kuning kaya yang di foto”. Ada sedikit perasaan sakit hati saat mendengar itu, entah kenapa. Meski teteh belum diberi kebahagiaan yang benar-benar bahagia selama hidupnya, tapi kami percaya bahwa teteh akan mendapatkan apa yang tidak teteh dapatkan disana. Kami, terutama aku percaya teteh akan diberi tempat terbaik disana, Amin.


Selamat jalan teteh, entah kita akan akan bertemu kembali atau tidak yang pasti kami selalu mendoakan teteh mendapat kebahagiaan disana, dia alam yang kekal dan abadi. Kami sayang teteh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar