Ini bukan nightmare ardan atau cerita –
cerita Sarasvati, ini cerita tentang kakak perempuan saya.
Kurang lebih sudah sebelas hari kakak
perempuan saya atau teteh saya koma di salah satu rumah sakit di Cimahi karena
diabetes dan darah darahnya. Hari rabu dua minggu yang lalu, teteh step dan tak
sadarkan diri. Semua orang panik tiada dua. Kita semua berpikiran teteh sedang
sakaratul, karena nafasnya sudah tidak teratur dan badannya dingin serta kaku.
Semua tetangga teteh datang mendoakan, mengaji dan memohon maaf kepada teteh. Melihat
teteh yang seperti sedang sekarat, mamah panik. Dan yang bisa dilakukan mamah
hanya berdoa serta menangis sambil memegangi tangan teteh.
Masih dirumah teteh, pada sore hari dimana
teteh kejang – kejang, dede, anak kedua teteh menunduk dan menangis. Saat ditanya
kenapa, dia menjawab, “ada yang mau masuk ke dede, tapi dede ga mau”. Mungkin seseorang
yang ingin menolong teteh. Dede memang sedikit berbeda dari anak – anak lainnya.
Dia dapat merasakan dan melihat sesuatu yang tidak dapat kita lihat memakai
penglihatan biasa.
12 jam, 24 jam.. waktu terus bergulir dan teteh
masih saja belum bangun. Badannya kejang – kejang dan mulutnya terus
mengeluarkan busa. Akhirnya datang dokter me-nensi darah teteh dan menyuruh
teteh untuk dibawa kerumah sakit. Ada satu keyakinan di hati mamah, “teteh
tidak sedang sekarat!”. Ya, mamah benar, teteh tidak sedang sekarat, tapi semua
orang kita semua harus ihklas dan membekali teteh dengan membisikannya ke
telinga agar teteh bisa pergi dengan tenang. Siapa mereka? Beraninya berbicara
seperti itu, mereka pikir mereka Tuhan? Malaikat? Teteh masih ada di dalam
tubuhnya dan teteh akan segera bangun.
Tidak pikir panjang, teteh langsung dibawa ke
rumah sakit. Memasuki IGD, dokter dan suster langsung mengurusi teteh yang
belum juga bangun dan sadar dari mimpinya. Selang – selang di masukan ke hidung teteh,
oksigen, cairan gula, dan darah. Dokter bilang, darah gulanya menurun dan darah
tingginya naik, dan teteh sepertinya salah makan. Padahal makanannya sudah dijaga
sebisa mungkin, tapi karena teteh sulit diatur, ya inilah yang terjadi.
Jam 3 sore, bapak sekamar teteh di IGD
meninggal. Dan dede bilang, bapak itu terus saja melihat teteh dan diam di
situ. Sedikit menyeramkan karena saya amat membenci Rumah sakit dan peralatan –
peralatannya dari ambulance, suntikan hingga darah termasuk cerita – cerita misteri
di balik tempat bernama rumah sakit itu sendiri.
Jam 4 sore dan masih di IGD, belum kering
tempat tidur bekas bapak yang meninggal tadi, datang pasien baru. Kali ini ibu
tua, kondisinya sudah sangat parah dan tidak sadarkan diri juga. Jam 6 sore,
saat adzan berkumandang, semua keluarga ibu itu berteriak dan menangis karena
detak jantung ibu tua itu menghilang. Dokter dan suster segera mengejutkannya
dengan benda – benda seperti pengejut dan memasukan selang – selang ke
mulutnya. Saya tidak tahu persis untuk apa itu. Setelah beberapa saat, akhirnya
dokter dan suster keluar dari ruangan dan menetapkan jam ibu tua itu meninggal.
Tepat jam 6 sore.
Malamnya, teteh dipindahkan ke ruang inap. Dua
hari tidak ada perubahan, hanya respon – respon tangan yang bergerak sesekali. Dokter
menyarankan teteh untuk dipindahkan ke ruang ICU. Damn! Worst!
It was getting worst!
Di ruang ICU, ada beberapa pasien yang
kondisinya sama bahkan lebih parah dari teteh. Bahkan, anak berumur 20 bulan
yang menyusul masuk ICU setelah teteh besoknya meninggal. Belum pria yang sudah
lama koma sebelah teteh yang besoknya juga meninggal. Lalu besoknya pasien di
ujung dekat pintu. Ruang ICU benar – benar suck! Menyebalkan untuk bermalam
disana. Intinya teteh belum juga bangun dan.... teteh tidak ada di badannya.
Orang itu bilang, karena banyak orang yang
telah “membekali” teteh meski belum waktunya teteh untuk pergi, “mereka”
mengambil kesempatan untuk membawa teteh jauh dari raganya. Membawa teteh jalan
– jalan dan saat dijemput, teteh tidak mau pulang karena teteh senang berada “disana”.
Di dunia dimana “mereka-mereka“ tidak dapat pulang ke asalnya. Pulang ke
Penciptanya. Sedikit tidak percaya tapi... bukankah mereka ada?
Jadi dimana teteh sekarang, bukankah dokter
bilang teteh sudah dapat dipindahkan ke ruang inap? Tapi kenapa teteh belum
juga sadar?
Bagaimana nasib teteh sekarang, atau besok
atau lusa. Tidak ada yang tahu. Kita hanya bisa berdoa agar yang terjadi nanti
adalah yang terbaik untuk teteh dan kita semua. Saya, mamah, dede dan semua
orang sayang sama teteh. Semoga teteh cepat bangun dan sadar, Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar