Ucapan bocah
bernama Dimas tadi membuat aku berpikir, bagaimana caranya seseorang bisa sadar
atau tahu jika dia akan merasa kehilangan saat orang yang setiap hari cerewet
tidak lagi cerewet. Mencari tahu apakah kita berharga atau tidak bagi orang
lain sedikit sulit untuk keadaan seperti ini.
Kenapa pria tadi
tidak mengenakan alas kaki ditempat seperti ini, ok! Sepertinya temannya juga.
Sebelah kiri sana beberapa pasangan sedang menikmati makan siangnya seraya
memandang jalanan yang padat merayap. Sebelah kananku, terlihat keluarga besar
yang sedang menikmati obrolan keluarga yang hangat. Membuat iri saja.
Tempatku duduk
memang startegis. Aku dapat melihat keadaan di sekelilingku dengan jelas. Cuaca
yang mendung didukung jalanan yang macet padat membuat setiap orang malas untuk
pergi kemanapun. Meski tidak jauh dari keramaian, setidaknya aku dapat berpikir
sedikit jernih di sini. Sedikit. Bukan karena pikiranku sedang tak jernih tapi,
waktu dimana kita harus merasa sendiri dan menikmatinya dengan diri sendiri
terkadang kita butuhkan. Dan prinsip lebih baik kelaparan daripada makan
sendiri sudah di hapuskan dari buku besar sekarang.
Tidak sulit untuk
menentukan apa yang kita butuhkan dan apa yang kita inginkan. Tapi terkadang
sangat sulit untuk tidak melakukan apa yang kita tidak butuhkan tapi kita
inginkan.
Melihat pemandangan
keluarga kecil dengan dua anak perempuan mereka di depan membuat aku sangat
amat cemburu, marah serta kesal. Tapi suatu saat nanti aku akan memilikinya. Suatu
hari, aku akan melakukan apa yang tidak aku lakukan bersama keluargaku dulu. Tentunya
suatu hari nanti akan jadi hari yang menarik. Lebih menarik dari hari ini atau
dulu. Akan aku pastikan semuanya lebih menarik dan menyenangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar