Selasa, 31 Desember 2013

9 anak SMP

Ini tentang 9 anak SMP yang saya latih beberapa waktu kemarin.

Ngelatih dance anak SMP itu, susah susah gampang. Sebenernya gampang kalau semua anak yang dilatih punya attitude kaya si leader, Gita. Yup, si Gita ini adalah anak yang ngatur semuanya, dari mulai nyari pelatih buat temen-temennya, ngatur pertemuan kita dll. Dia itu holy.... sekali. Baik dan penurut, ngebangkang tuh kayanya bukan dia sekali. Dia punya kembaran, namanya Gina. Regina dan Regita. Soal latihan dia lumayan cepet nangkep gerakan yang saya transfer. Sopan dan murah senyum.

Anak yang lain namanya Windi. Nah, kalau yang ini selain cepet nangkep gerakan, dia juga paling bagus nge-dance-nya. Diantara yang lain dia yang paling punya basic nge-dance. Sopan, lucu lagi. Dia ramah kaya Gita dan dia anak kedua yang saya suka karena attitudenya lumayan baik. Mukanya sih datar tapi mantap! *ngedance-nya.

Ketiga, Nurul. Rambutnya panjang, item manis dan sedikit pendiam. Dia ga bisa kalau ngedance sendirian, pasti lupa. Keliatan kalau dia emang perna Jaipong, soalnya semua gerakan yang saya kasih jatohnya terlihat tradisional kalau dia yang gerakin.

Next, Fanny. Rambut panjang oval, item manis, poni penuh. Fanny ini bisa dibilang kepaksa buat ngedance. Dia ga punya basic sama sekali. Tapi, dia mau ngikutin buat blajar, itu yang saya suka. Dia berusaha buat ngikutin gerakan2 yang kata dia susah banget. Anak kecil... banget. Jarang ngomong dan lebih pendiem dari Nurul. Ga pernah mau nanya meski dia ga ngerti.

Sarah. Diantara 8 anak yang lain, Sarah emang paling2 bongsor badannya. Mukanya paling songong, dan kadang2 suka asik sendiri kalau lagi ngedance. Tapi anak ini ga nyebelin. Dia termasuk anak yang lumayan sopan, meski caranya ga kaya Gita atau yang lain. Ngedance-nya cukup bagus juga, badannya yang semok ngedukung soalnya. Hehe

Mita. Temen si bitchi Sarah. Di behel, alisnya ngangkat, cantik tapi narinya kurang namun cukup baik karena ramah. Kalau ga ngerti dia bakal langsung nanya dan kalau ada gerakan yang dia ga bisa, dia bakal langsung minta gerakan yang lebih gampang. Sangat demokrasi.

Silvi. Masih temen dari gang bitchi2, kurang lebih sama kaya Mita, Demokrasi. Bedanya, dia ga pernah minta ganti gerakan palingan dengerin dulu pendapat orang baru ngangguk2 setuju.

Next is Agneta atau biasa dipanggil Neta. Cantik, putih, bongsor tapi manja. Dia yang attitude-nya paling amat jelek. Sama sekali ga bisa nari dan jelek banget nari-nya. But, di tengah – tengah dia mengundurkan diri karena hasil nilai TO-nya tidak memuaskan dan ibunya melarang si 
Agneta ini untuk ikut serta dalam pertunjukan seni SMP-nya.

So, datanglah newbee bernama Kiki yang sangat amat cinta sama yang namanya K-Pop. Ga heran dia cepet nangkep gerakan yang dikasih. But, she was very fussy why? Because she always complain about this, that and so on. She said “sis.., my mommy said that the costume was... blah blah blah..” -_____-. She was fun but,, eeewwwww!!

The point is... it was over. I got my money and they got what they want. I am not than naive. It was an interesting experience. I hope I can get another one. Haha. Thanks for that.


Senin, 30 Desember 2013

Rasa ke 5

Dunia itu selalu berjalan diluar nalar kita. Seperti rasa menurut sebuah film pendek .

Ya. Pria itu berkata, secara anatomi ada empat rasa yang dapat dirasakan oleh lidah kita. Manis, asin, asam dan pahit. Pria itu berusaha keras untuk mencari rasa ke lima. Rasa yang dia tidak pernah tahu dimana dia dapat menemukannya. Cukup sulit menurutnya untuk menemukan rasa kelima meski pekerjaannya adalah food taster handal.
Jika dia tidak menyerah dan berhenti mencari apa itu rasa kelima, maka dia tidak akan pernah menemukan rasa kelima. Dengan ulet dia terus mencari apa rasa kelima setelah manis, asin, asam dan pahit. Dan finally, dia pun menemukan rasa kelima. Rasa kelima ialah...

Tuhan selalu memberi kita pilihan untuk memilih rasa apa yang ingin kita coba. Tentang rasa, semua orang pasti ingin hidupnya penuh rasa. Hambar itu seperti makanan rumah sakit. Sebelumnya, mungkin hanya ada empat rasa. Setelahnya mungkin tercipta berbagai macam rasa baru yang dengan secara tidak sengaja diciptakan. Seiring berjalannya waktu yang kita tidak pernah tau dimana ujungnya, kita menemukan rasa baru seperti hambar dan kosong. Mereka adalah rasa dimana kamu tidak menemukan rasa apapun. Tapi layakkah kita memanggil mereka dengan sebutan rasa? Penyelesaiannya adalah sudut pandang kita masing – masing.

Lekukkan itu terasa nyata saat mata tertutup. Sinar mata itu terlihat jujur meski tersimpan banyak misteri dibaliknya. Sentuhan itu terasa hangat meski terkadang dingin. Semua memiliki rasa. Penglihatan, pendengaran, penciuman, dan sentuhan yang memiliki rasa tersendiri. Semua indra kita dapat merasakan rasa. Bahkan semua organ kita pun dapat merasakan rasa. Bukan hanya empat rasa yang hanya bisa lidah kita rasakan manis, asin, pahit dan asam. Tetapi, ke empat rasa yang benar – benar nyata hanya dapat lidah kita rasakan. Kamu juga terasa nyata meski terkadang tidak. Dan ternyata, rasa kelima itu adalah.... Kamu. 

Senin, 02 Desember 2013

Satu Tahun Kemarin



Satu tahun kemarin, tepatnya tanggal 1 Desember. Seseorang datang membawa boneka dan mengalungkan tas kecil Elmo yang didalamnya terdapat sebungkus chacha, butiran – butiran coklat penuh kebahagiaan bagi sebagian anak – anak. Dia memberikan tangannya yang selalu hangat dan mengajak si anak ini ke tempat paling gelap dan menakutkan.

Dia berkata “Orang dewasa itu mengajarkan kepada anak kecil untuk tidak takut apapun”. Dia bertingkah seperti orang dewasa yang sedang mengajarkan anak kecil untuk tidak takut apapun, salah satunya gelap.

Beberapa saat setelah itu, dia membawa 450 bintang dengan 8 bintang tersenyum di dalamnya. Pertanyaannya, kenapa harus 8 bintang yang dia beri gambar senyuman. Dia berkata “Angka 8 itu adalah angka yang anak kecil itu benci, jadi aku akan membuat anak kecil itu selalu tersenyum dalam keadaan yang dia benci”.

Kenangan itu memang terkadang menyenangkan terkadang juga menyebalkan. Seorang gadis pernah bertanya kepada orang dewasa yang sepenuhnya belum dewasa, “Harus kita perlakukan seperti apa sebuah kenangan?”. Dia menjawab, “Jadikan itu sebuah pengalaman bila buruk jadikan itu sebuah harta bila indah”. Dan semenjak saat itu, si Gadis memperlakukan semua kenangan buruk sebagai sebuah pengalaman dan kenangan indah sebagai harta untuk hidupnya yang mungkin suatu saat akan dia bongkar dan dia berikan kepada orang lain.
Semua memori yang terekam dengan dengan jelas tidak mungkin hilang dengan mudah. Sulit untuk melupakan sesuatu yang sudah melekat dengan ingatan. Tersimpan dan trekunci rapat di dalam brangkas penyimpangan memori di dalam otak.

Mari kita kumpulkan harta dan pengalaman sebanyak mungkin. Memperkaya diri bukan hanya dengan materi kan?!

Aku adalah Aku



Kenapa bisa merasa kesepian di tengah keramaian?

Situasi itu kembali. Situasi dimana ruangan biru menguasai perasaan yang memaksa karakter itu datang kembali. Bau tanah menyeruak menusuk pori – pori kulit dan memaksa hidung ini merasakan bau tanah yang basah karena hujan yang tiba – tiba datang. Mengapa sulit sekali menemukan potongan puzzle itu, apa memang potongan itu tidak akan pernah aku temukan?

Semuanya misteri, tidak pernah ada yang tau dimana potongan puzzle itu berada tetapi aku tidak akan lelah mencarinya hingga setidaknya aku menemukan seperempat bagian dari potongan puzzle yang hilang itu.

Saat lelah dan sedikit merasakan putus asa, ada kah orang yang bersedia meminjamkan bahunya untuk menjadi tempat dimana aku dapat melepaskan lelah setelah mencari potongan puzzle yang hilang. Saat memejamkan mata, terlihat gambar itu lagi, gambar berjalan yang telah terekam beberapa tahun kembali muncul dan indah. Indah meski tidak pernah terjadi. 

Anak perempuan itu terlihat bahagia sembari memegang tangan kedua orang dewasa di kanan dan di kirinya. Film yang indah, tetapi menyakitkan.
Apalagi saat membuka mata dan semuanya terasa nyata kembali. Sedikit seperti mimpi tetapi nyata. Seperti berada di dua dimensi yang berbeda. Antara nyata dan mimpi itu ternyata terasa sangat dekat sekarang.  Kotor, jalang dan brengsek. Itu hidup ku sekarang. Entah nyata atau tidak, aku tidak dapat membedakannya sekarang.

Sejenak terpikir pertanyaan konyol, “kenapa?”. Seringkali kalimat ini muncul, kenapa harus menanyakan pertanyaan yang sebenarnya sudah kita temukan jawabannya.
Wajah – wajah mereka terlihat kotor, jalang dan naif. Terlihat kerutan – kerutan ke-jalangan yang berusaha mereka tutupi dengan garis – garis kebaikan. Memuakkan! Mual aku melihatnya. Rasanya ingin aku muntahkan semua makanan yang telah aku telan seharian ini. 

Binatang jalang itu berkata “Heh jalang! Kau pantas mendapatkannya!”. Siapa dia, punya hak apa dia memanggilku dengan sebutan seperti itu. Punya hak apa dia berkata seperti itu kepadaku. Aku memang jalang, tapi aku adalah aku. Bukan anda ataupun mereka.