Kamis, 07 April 2016

Menjadi Juri (Lagi)

Aku marah dan sedih dalam waktu yang bersamaan. Bagaimana orang-orang menilai homosexual itu biasa saja. homosexual adalah penyakit dan dapat menular. Aku ingin sembuhkan semua homosexual didunia. Mereka sakit dan harus disembuhkan, mereka butuh penanganan khusus. Mereka harus disembuhkan!

Al-Quran maupun Bible menyebutkan bahwa homosexual adalah dosa besar. Dosa yang pelaku harus dirajam sampai mati. Aku memang bukan orang paling suci didunia, malah mungkin aku sama sekali tak punya hak untuk menghakimi para homosexual tapi, aku hanya prihatin, sedih dan marah ketika mendengar salah satu temanku mengaku bahwa dia seorang homosexual. Aku sedih dan tak tau harus berbuat apa.

Dia mengaku bingung, malu dan tak mau menjalani hidup sebagai seorang homosexual tetapi, dia tak dapat mundur. Dia bingung, begitu pula aku. Dan hatiku bertambah sedih ketika dia berpikir dia ingin sembuh untuk keluarganya tetapi, dia mendapatkan perlakuan yang tak mengenakan dari keluarganya sendiri. Hal itu membuat dia tidak ingin sembuh dan hanya ingin menjadi seorang homosexual total.

Aku sedih, aku marah, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Aku kesal pada diriku sendiri yang tak dapat berbuat apa-apa ketika orang-orang kehilangan apa yang mereka butuhkan. Aku hanya ingin mereka ijinkan aku untuk menolong mereka yang kesepian atas hidup mereka. Tolong ijinkan aku.

Disisi lain aku tak bisa berbuat apa-apa, terlintas pula pemikiran untuk “menerima mereka apa adanya meski mereka sakit.” Aku akan jadi orang yang dikutuk Tuhan jika aku mendukung mereka seperti itu tetapi, sudah jadi jalan mereka untuk menjadi kaum Luth. Aku sama sekali tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak berguna, aku sedih.

Adalah hak mereka untuk memilih jalan mereka masing-masing. Setiap orang punya hak untuk menulis atau menggambar apapun di buku kosong mereka. Mungkin aku sedih tapi, aku sangat menghormati apapun keputusan mereka. Aku bukan orang baik, sama sekali bukan, tetapi aku hanya ingin teman-temanku dapat bahagia dan terjauh dari penderitaan.


Senin, 04 April 2016

Dunia Memang Jahat

Status pacaran memang tidak diakui negara maupun agama but guess what, norma masyarakat lebih jahat daripada norma hukum yang tertulis di negara. Seseorang bisa membunuh dirinya sendiri karena judgement dari masyarakat. Padahal masyrakat itu sendiri tidak ikut andil dalam urusan kehidupan si korban.

www.bloglovin.com
Siapa sebenarnya kita sehingga berani memberi penilaian jahat terhadap orang lain? Apakah kita sudah lebih baik dari orang yang kita nilai? Mungkin hampir semua orang didunia ini telah menyalahgunakkan hak. Hak berbicara dan hak mengeluarkan kritikan.

Beberapa orang hari ini sedang menyuarakan hak mereka untuk diterima karena penyakit yang mereka derita, LGBT semisal. Tidak adakah dokter yang ingin menyembuhkan mereka? maaf aku salah besar disini. Mereka harus menyadari diri mereka sakit terlebih dahulu, baru setelah itu dokter akan menangani mereka.

Aku mungkin termasuk orang yang jahat karena senang pula menilai orang lain tanpa tahu cerita dibaliknya. Tapi aku muak dengan orang-orang seperti aku yang terkadang menganggap dirinya paling benar. Aku bukan Tuhan dan mereka pun bukan. Mereka kotor, akupun tidak sebersih yang aku pikir.

Dunia memang jahat. Terkadang aku hanya ingin hidup di padang rumput impian dengan pohon besar ditengahnya. Sejuk, tentram dan damai. Mungkin itu pengertian damai yang terlintas di benakku. Ketika melihat dunia semakin liar dan amburadul, hanya tempat itu yang ingin sekali aku datangi. Dunia ini semakin kumuh dan menjijikan. Aku ingin kehidupan bersih tanpa suara gaduh hewan-hewan liar berada. Bahkan hewan mungkin lebih pintar daripada manusia hari ini, karena hewan tahu bagaimana cara untuk kawin. Kawin dengan lawan jenis.

Serendah itukah manusia hari ini? Maafkan aku karena aku menjadi juri hari ini. Aku mengeluarkan semua kalimat kotorku. Maafkan.