Kamis, 07 Januari 2016

Dini Hari

Mata ini  lelah tetapi jari ini terus bergerak tak bersyarat. Mendengar seorang teman bercerita tentang kisahnya yang tak begitu menyedihkan bagiku tapi, cukup menyakitkan baginya. Semua kisah pasti akan berakhir, entah berakhir bahagia sebagai pasangan ataupun berakhir bahagia sebagai teman biasa. Kita hanya perlu menyikapinya secara pantas dan bijaksana.

Seperti perkataan teman lainnya, “setiap orang datang dan pergi, hanya yang terbaik yang bertahan”. Ini soal siapa yang akan menemani hidupmu sampai akhir hayat. Dia yang akan menjadi matahari di siang harimu, dia yang akan menjadi bulan dimalam harimu, dan dia yang akan menjadi selimut di saat kau tertidur. Dia juga yang akan menjadi payung disaat kau kehujanan dan dia pula yang akan menjadi pohon tempat kau bersandar dan berteduh di saat panas.

Aku, disini menunggu kamu yang sedang dalam perjalanan dikirim oleh Tuhan untuk menjadi semua yang aku butuhkan. Dimanapun kamu berada, seberapa jauh jarak kamu dan aku, pada waktunya tiba kita akan sedekat urat nadi yang tak akan pernah terpisahkan kecuali bila Tuhan berkehendak.


Selamat malam untuk setiap hati yang patah, mari kita nikmati rasa sakit yang menyenangkan ini. Dari aku, si Anak Petani yang mencoba bangkit dari kemati-suri-an. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar