Kenapa bisa merasa kesepian di tengah
keramaian?
Situasi itu kembali. Situasi dimana ruangan
biru menguasai perasaan yang memaksa karakter itu datang kembali. Bau tanah
menyeruak menusuk pori – pori kulit dan memaksa hidung ini merasakan bau tanah
yang basah karena hujan yang tiba – tiba datang. Mengapa sulit sekali menemukan
potongan puzzle itu, apa memang potongan itu tidak akan pernah aku temukan?
Semuanya misteri, tidak pernah ada yang tau
dimana potongan puzzle itu berada tetapi aku tidak akan lelah mencarinya hingga
setidaknya aku menemukan seperempat bagian dari potongan puzzle yang hilang
itu.
Saat lelah dan sedikit merasakan putus asa,
ada kah orang yang bersedia meminjamkan bahunya untuk menjadi tempat dimana aku
dapat melepaskan lelah setelah mencari potongan puzzle yang hilang. Saat
memejamkan mata, terlihat gambar itu lagi, gambar berjalan yang telah terekam
beberapa tahun kembali muncul dan indah. Indah meski tidak pernah terjadi.
Anak
perempuan itu terlihat bahagia sembari memegang tangan kedua orang dewasa di
kanan dan di kirinya. Film yang indah, tetapi menyakitkan.
Apalagi saat membuka mata dan semuanya terasa
nyata kembali. Sedikit seperti mimpi tetapi nyata. Seperti berada di dua
dimensi yang berbeda. Antara nyata dan mimpi itu ternyata terasa sangat dekat
sekarang. Kotor, jalang dan brengsek.
Itu hidup ku sekarang. Entah nyata atau tidak, aku tidak dapat membedakannya
sekarang.
Sejenak terpikir pertanyaan konyol,
“kenapa?”. Seringkali kalimat ini muncul, kenapa harus menanyakan pertanyaan
yang sebenarnya sudah kita temukan jawabannya.
Wajah – wajah mereka terlihat kotor, jalang
dan naif. Terlihat kerutan – kerutan ke-jalangan yang berusaha mereka tutupi
dengan garis – garis kebaikan. Memuakkan! Mual aku melihatnya. Rasanya ingin
aku muntahkan semua makanan yang telah aku telan seharian ini.
Binatang jalang itu berkata “Heh jalang! Kau
pantas mendapatkannya!”. Siapa dia, punya hak apa dia memanggilku dengan
sebutan seperti itu. Punya hak apa dia berkata seperti itu kepadaku. Aku memang
jalang, tapi aku adalah aku. Bukan anda ataupun mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar