Saatnya membuat pertunjukan lagi.
Entah apa yang akan sutradara tampilkan dia sendiri masih
belum tahu. Kenapa? Karena sudah lama sang sutradara tak melakukan casting
untuk mencari pemain baru. Dia sudah mencoba tapi, kelihatanya dia kehilangan
passion untuk melakukan pertunjukan baru. Sutradara terlihat lelah tapi bosan. Tak
banyak yang dapat dia lakukan. Dua tahun ini dia hanya makan sereal setiap pagi
dan pergi menonton drama saat sore. Dan saat malam tiba, dia akan menatap
langit untuk memperhatikan bintang atau bulan atau awan atau… langit yang
kosong.
Sama sekali tak bisa dibaca apa yang sebenarnya ia ingin
lakukan. Setelah berhenti dengan Anak Petani beberapa tahun lalu, dia masih
juga tak menggerakan bolpoin yang setiap hari dia pegang. Beberapa orang datang
beberapa bulan kemarin untuk melakukan casting tapi, sama sekali tak ada
satupun yang sutradara pilih. Dia malah menyuruh mereka pulang.
Malam ini, dia ambil kembali bolpoin merah yang biasa dia
pakai untuk menulis naskah, disampingnya terlihat kertas sketsa berwarna coklat
yang sama sekali tak ia sentuh lalu dia memandang langit yang sedang mendung
dari atas gedung dengan tatapan bertanya. Setelah beberapa lama, dia ambil
tumpukan kertas coklat itu dan mulai menulis sesuatu.
“Waktunya sudah hampir tiba..” gumamnya sembari menyimpan
kembali tumpukan kertas coklat beserta bolpoinnya.
Ditempat yang berbeda, seorang perempuan sedang berdiri diam
di atas panggung kosong. Tak terdengar sedikit pun suara aula tersebut, hanya
suara nafas nya yang sesekali dia tarik lalu dibuang dengan terpaksa tanda
putus asa. “Aku ingin bermain lagi. Kenapa sang sutradara tak menulis naskah
dan melakukan pertunjukan lagi, meski akan sedikit penonton yang datang, aku
tetap akan ikut casting dan berusaha mendapatkan peran utama” bilangnya pada kursi
penonton yang kosong. Tak berselang beberapa menit, diapun menari dalam sepi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar