I want to share you about my One
Night Stand Story.
Kebanyakan orang mengalami hal
ini, maksudnya bagi yang sudah menginjak usia dimana kita sudah mengenal
hubungan dengan lawan jenis seperti pacaran, tapi hanya orang “nakal” saja
mungkin. But, jangan berpikir terlalu jauh. Ini bukan seperti One Night Stand
orang kebanyakan. Aku akan mulai.
Beberapa hari lalu, aku bertemu
dengan salah satu mantan pacar saat SMP. Dia masih saja seperti dulu, seperti
itu. Singkat cerita aku jadi teringat terakhir kali aku bertemu dengan dia. Kejadian
terakhir yang membuat aku selalu kikuk dibuatnya. Aku tak pernah bisa bersikap
biasa setelah hari itu. Mungkin dia bisa bersikap biasa tapi tidak bagiku.
Beberapa tahun lalu, tahun
pertama aku di perkuliahan mungkin sekitar 7 tahu yang lalu. Kami intens
kembali berhubungan via telepon dan sms. Tak banyak yang kami lakukan tapi, malam
itu benar-benar membosankan. Kami memutuskan bertemu untuk hanya sekedar
nongkrong dan mengobrol.
Dia menjemputku saat sore
menjelang malam. Saat itu adalah saat dimana aku sama sekali tak punya jati diri.
Ibuku tak akan menanyakan aku sedang dimana atau dengan siapa. Dia terlalu
sibuk dengan urusannya sendiri mungkin atau memang aku telah dipercaya menjadi
anak yang dewasa.
Tak banyak yang aku pikirkan. Aku
tak berpikir apa bahayanya bila aku pergi dengan seorang lelaki dimalam hari. Kami
hanya mengobrol sana sini, miinum secangkir susu murni dan jam ternyata sudah
menunjukan 11 malam. Aku sama sekali tak mau pulang karena saat itu, rumah
adalah tempat paling membosankan di dunia. Tak ada yang bisa aku lakukan
dirumah.
Diapun menawarkan aku untuk ikut
ke tempat dimana dia kost. Akupun setuju, karena yang aku pikirkan saat itu
adalah bersenang-senang. Tibanya di tempat kost, kami hanya mengobrol kembali
dan saling bercanda. Tapi aku tak bisa berbohong, aku takut, aku ingin pulang
karena hanya ada aku dan dia di kamar kost itu. Akupun tak bisa memprediksi apa
yang akan terjadi selanjutnya karena malam masih sangat panjang.
Dia mematikan lampu kamar dan akupun
sadar saat itu kami sudah berbaring saling berhadapan, dia menyentuh pipiku
lalu berkata “Aku ga pernah ngerti kenapa kamu minta kita putus, dengan alas an
beda agama? Aku bener2 ga paham! Yang aku tau, aku masih suka kamu” and he
kissed me on the cheek. Aku langsung membalikkan badan dan tak mengeluarkan
kata apapun. Yang pasti dia tahu bahwa aku tak mau membahas itu. Dia memutar
lagu Naif benci Untuk Mencinta dan mengantarkan aku tidur.
Saat fajar tiba, aku bangun
segera karena aku ada kelas pagi hari itu. Dia mengantarkanku pulang. Setelah kejadian
itu, aku sama sekali tak berani untuk membalas pesan atau apapun darinya. Aku tak
tahu apakah itu perasaan takut atau apa yang pasti, aku hampir saja melakukan
hal fatal malam itu. Hampir saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar