Senin, 18 Agustus 2014

Masih Tentang Anak Petani

Masih tentang anak petani. Dipandangnya minyak kayu putih berwarna hijau lalu dibalurkannya minyak itu ke badannya sendiri. Dengan pilu, anak petani berkata dalam hati, “meski aku tidak pernah merasakannya secara real, aku tahu, dia menyayangiku seperti dia menyayangi anaknya yang lain”.

“Kenapa tidak terasa hangat yah? Apa karena minyak kayu putih ini sudah kadarluarsa?” tanya si anak petani dalam hati. Sembari tersenyum miris anak petani berpikir bahwa “aku sudah besar sekarang, minyak seperti ini mana mungkin bisa membuat tubuhku hangat?! Bodoh!!aku seudah besar sekarang, minyak seperti ini mana mungkin bisa membuat tubuhku hangat?! Bodoh!!aku seudah besar sekarang, minyak seperti ini mana mungkin bisa membuat tubuhku hangat?! Bodoh!”.

Wajahnya sedikit berbeda dari enam tahun yang lalu terakhir kali aku melihatnya. Melihat wajahnya membuatku sedih, menyentuh tangannya membuatku sengsara. Perasaan itu kembali datang saat kulit tangannya menyentuh kepalaku. Perasaan dimana amarah atas konspirasi suatu jati diri diperkesalkan.

Memandang gambar – gambar di tembok kamarnya membuatku iri, “kenapa tidak ada gambarku disini? Anak – anak perempuan lain malah yang dipajang di dinding kamarnya. Alaaaah persetan dengan itu!” pikirku dalam hati. Tapi perasaan luka sedikit terobati ketika aku lihat raut wajahnya senang melihat kami dapat mengunjunginya. Apalagi raut wajah kerinduan terhadap mantan istrinya yang juga datang mengantar anak – anaknya.

Sedikit tapi tidak banyak, kenapa aku sedikit mengerti sekarang. Mungkin bukan hal yang mudah untuk melupakan kisah selama 27 tahun lamanya, bukan mungkin tapi memang sulit. Tak heran, mereka masih sedikit menyimpan perasaan nostalgia itu. Waktu serasa berhenti saat aku memandang wajahnya yang kini tak lagi segar seperti dulu. Muncul banyak pertanyaan yang harusnya tak kupertanyakan karena mungkin aku sudah tahu apa jawabannya.


Pilu, benar – benar pilu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar