Curhatan ya?! Blog ini emang tentang
kehidupan si cupu ini, kalau emang ga suka ya ga usah dibaca.
Memang menulis adalah cara lain si cupu ini
untuk mengungkapkan perasaan yang tidak bisa ia keluarkan lewat cara lain.
Sekarang ini perasaan sedih yang tiba-tiba datang menyerang si cupu dan
alhasil, air mata keluar tiba-tiba seperti biasa. Perasaan macam apa ini?!
Minggu ini benar-benar minggu yang berat,
pressure dimana-mana, dua dosen yang berubah jadi demon bertanduk lima, tugas
yang bertubi-tubi, dan hal lainnya. Kelas tidak bersahabat seperti biasanya,
sebentar, sejak kapan kelas bersahabat! Ngaco!! Terlihat wajah-wajah yang
mencibir, merendahkan dan menghina saat si cupu berbalik badan. Pintu kelas
memang terbuka untuk siapa saja tapi, terasa asing jika dirasakan. Terasa cuaca
asing yang benar-benar asing saat berada di kelas itu. Gumaman mereka terasa
begitu kuat ditelinga saat si cupu terdiam untuk mendengar angin sejenak.
Kenapa susah untuk jadi seseorang yang dapat
melakukannya sendiri. Bergantung pada orang itu benar-benar tidak baik, apalagi
menjadi parasit. Itu bukan maksud si cupu untuk merepotkan dan menyita waktu
seseorang, bukan itu maksudnya. She just needs a place to hide away from much
stuff that make her cannot breathe except her God and her Mom. Bahkan teman dekat pun berubah jadi menyakitkan saat berucap. Keadaan
yang benar-benar mendukung membuat semua situasi dan kondisi terasa tajam dan
apa yang harus dilakukan? Survive! Bertahan! Ingat? Survive adalah jalan paling
tepat sekarang.
Setelah menulis pasti selalu ada perasaan
lega. Mengantuk, mencuci muka dan kaki, lalu menyembunyikan diri di balik
selimut tebal berwarna coklat yang sudah lama tak dicuci, membaringkan badan
dan pikiran yang seharian ini telah bekerja begitu keras, memejamkan mata yang akhir-akhir
ini mempunyai kantung mata lebih tebal dari biasanya. Ditemani si Elmo kecil
yang tak pernah menghilangkan senyum bahagia diwajahnya, tak lupa baju tua
usang berwarna hijau kebiru-biruan yang tak pernah jauh dari si Elmo dan tangan
pemiliknya bila tidur. Berharap tertidur pulas dan bermimpi indah malam ini
agar saat sang mentari menyapa esok hari, si cupu dapat mengukir senyuman kecil
yang dapat membuat dirinya tetap tersenyum menjalani hari-hari yang kasar dan
jahat.
Diam bukan pilihan yang tepat, si cupu harus
menjalani hari-hari seperti biasanya. Melakukan apapun yang ia mampu lakukan.
Mari pejamkan mata dan berdoa supaya esok hari menjadi hari yang lebih baik
dari hari ini. Meski akan menjadi hari yang lebih kasar, jahat dan berat dari
hari ini tapi mari kita kita berdoa supaya esok hari kita masih tetap menari
meski hujan datang.
“Terimakasih Tuhan telah memberi Ibu yang selalu memberikan senyum
terbaiknya setiap hari, telah memberi saya orang-orang seperti Donkey dan yang
lainnya yang telah bersedia saya ganggu dan saya repotkan dan selalu
mengingatkan saya kata ‘Semangat’ saat saya lupa. Saya sangat bersyukur dan
berterima kasih telah mempunyai MEREKA, terimakasih!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar