Kamis, 15 Mei 2014

What the...?!!!

Akan tiba saat dimana kamu merasa kesepian di tengah keramaian, itu sudah biasa. Sangat biasa. Tapi apa yang terjadi jika merasa kesepian ditengah kesepian?

Saat hujan deras tiba, apa yang kau dengar? Halilintar? Petir? Atau suara hati? Jika kau dapat mendengar nyanyian hatimu ditengah hujan deras, apa yang akan kau lakukan?

Sedikit memandang keluar jendela, “hujannya deras sekali, kapan mereka berhenti...” tanya seseorang sembari melirik jam di dinding. Serasa semuanya telah hanyut dibawa air hujan, terbang bersama angin yang datang menemani hujan dan lenyap menyerap kedalam tanah bersama air yang jatuh dari langit. Perlahan mereka pergi, menghilang entah kemana. Seperti ingin meninggalkan bekas setelah hujan, mereka membuat tanah ini basah dan menciptakan genangan air di jalanan. Menciptakan cipratan dan jika kau sentuh tetesan yang jatuh, mereka seakan memijit telapak tanganmu. Membuat semua debu dan kotoran yang berada di tanganmu luluh ikut terbawa tetesan jatuh ke tanah.

Setelah itu, apa yang terjadi? Hujan yang tadi deras akhirnya reda juga. Tanpa mengucapkan selamat tinggal mereka pergi lagi. Dan mungkin akan datang lagi dalam jangka waktu yang tidak ditentukan.

Saat hujan, selalu ada kilasan film yang ingin kembali ditanyangkan. Bahkan memaksa ditanyangkan meski aku tidak mau menonton film – film itu. bukan hanya saat hujan, tapi saat matahari pulang ke tempatnya untuk memejamkan matanya dan bertukar tempat dengan bulan untuk menjaga bumi agar selalu terang meski penghuninya merasa gelap saat malam tiba.  


Kesepian ditengah kesepian. Ini akan  berlangsung beberapa saat untuk beberapa waktu ke depan. Tapi tenang saja, angin, hujan, cahaya, bahkan kegelapan akan membawa keadaan ini menjauh bahkan hilang. Bagaimana jika kita meminta bantuan waktu untuk mempercepatnya? Pasti waktu tidak mau di ajak bekerja sama karena dia tidak akan pernah bisa melanggar peraturan. Baiklah, mari kita berjalan beriringan untuk membawa semuanya pergi, bukan pergi untuk menhapus tapi pergi untuk mendatangkan mereka yang seharusnya menjadi pengganti. Bukan pengganti sebagai cameo tapi memang mereka-lah tokoh utama dari diorama yang selama ini digelar dengan peran – peran palsu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar