14 januari 2021
Aku memakai hijab untuk pertama kali dan aku tahu, aku tidak
main-main.
Aku tidak bisa kembali dan aku akan berusaha untuk tidak
melepasnya.
Kenapa?
Banyak yang aku lalui di bulan desember kemarin. Menjadi
pasien covid dan sampai detik ini pun aku masih belum dapat mecium bebauan
dengan benar. Sebulan aku diam dirumah tanpa melakukan apapun. Merasa kecil
tapi membukakan mataku dengan jelas, mana orang baik dan mana orang yang kurang
baik. Aku berpikir, mungkin tujuan Tuhan menurunkan virus ini ya untuk
menyadarkan manusia bahwa hijab dan cadar melindungi para wanita dari hal macam
virus ini, makanya kita harus melindungi diri kita dengan memakai masker.
Mereka bisa menempel dimanapun salah satunya rambut. Rusaklah rambutku bila
harus keramas tiap malam. Mungkin saja, ini hanya pemahamanku. Tapi pada
akhirnya aku harus menutup rambutku bukan?
Lalu, aku dicaci maki tetangga yang sama sekali bukan
tandinganku, mereka orang yang tidak berpendidikan dan bodoh, maaf tapi itulah
kenyataannya. Kita tak pernah menang berdebat dengan orang bodoh bukan? Mereka
juga melakukan kekerasan kepadaku. Dan aku hanya bisa diam tanpa bisa membalas
apapun. Dari kejadian inipun aku tahu siapa yang benar-benar membela atau hanya
pura-pura membela. Ibuku juga berusaha merelakan rumah ini untuk dijual karena
lingkungan ini sudah membuat kami gerah dengan keadaan tetangganya. Itu kenapa
aku selalu ingin hidup di rumah komplek. Bahkan, aku tidak bisa melupakan orang
yang sudah menghina kami sedikitpun. Orang bodoh itu selalu aku ingat dan
dihari dimana aku tidak bersalah sama sekali tapi aku ditampar aku ingin sekali
menjebloskannya ke penjara tapi, percuma karena hukumannya hanya akan beberapa
bulan saja dan ketika orang itu keluar, maka dia akan semakin dendam pada kami,
itu pertimbangan keluargaku.
Aku sampai tidak bisa tidur ketika memikirkan betapa dendam
dan sakit hatinya saat harga diri ku dan ibuku diinjak injak oleh orang seperti
itu. Dia sama saja menggali kuburannya sendiri. Karmanya akan segera datang, tidak
hanya kepada perempuan jalang itu tapi kepada seluruh keluarganya bahkan
keluarganya yang telah mati. Aku tidak peduli tapi dia akan membayarnya. Aku
tahu Tuhan sedang merencanakan pembalasan untuknya.
Terakhir, aku terjatuh dari tangga dan sarafku sedikit
terjepit. Hapir 2 bulan aku merasakan sakit yang tidak berujung dari punggung
hingga menjalar ke kakiku. Aku kesulitan saat sholat, berdiri setelah duduk,
duduk setelah berdiri, saat tidur maupun bangun. Kadang aku tak sengaja ingin
menyerah tapi Tuhan sepertinya mengujiku apakah aku sanggup menerima semua ini.
Tapi hari ini semua nya lebih baik, kesakitanku sedikit berkurang karena
seseorang membenarkan syaraf-syarafku yang sedikit terganggu. Aku yakin besok
dan seterusnya akan menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.
Tuhan benar-benar sayang padaku, bukan begitu? Aku tidak
berbicara secara ironi tapi aku benar-benar mengatakannya. Aku pernah berdoa
agar aku didekatkan dengan Nya dan Dia sepertinya mendengar doaku. Aku harus
berhati-hati mulai sekarang. Aku akan berhati-hati ketika berdoa. Tuhan sangat
amat peka terhadap doa aku tahu itu. Kau tak ingin mengacau lagi, aku akan
lebih berhati-hati. Samapi aku lupa aku kesepian dan ingin sekali menemukan
seseorang yang bisa aku andalkan saat aku dihina dan direndahkan oleh orang
lain.
Disamping itu, aku hanya ingin berusaha menjadi orang dengan
versi lebih baik dari aku yang sebelumnya. Mungkin tak akan mudah, contohnya
seperti aku berusaha mencoba memakai hijab dengan benar tapi aku tak akan
menyerah. Beberapa waktu lalu aku ingin menyerah dan berhenti saja. Tapi aku
masih di beri Tuhan untuk membenarkan apa yang belum benar.
Aku bersyukur Tuhan mash memberiku ujian-ujian ini. Oiya,
teman kantorku resign karena suaminya hidup berbeda kota, jadi aku akan
mempunyai job desk baru mulai dari bulan ini. Aku masih belajar tapi aku akan
bisa menghadapinya.
Sebenarnya, aku juga ingin menikah dengan jodoh seumur
hidupku tapi mungkin masih belum waktunya. Jadi ya tugasku adalah untuk
menunggu, masih menunggu. Aku ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari
sekarang. Aku harus mendapatkannya meski melihat umur, aku mungkin akan sedikit
kesulitan.
Akan masih sedikit sulit tapi tenang saja, aku akan bisa
melawatinya. Semua akan menjadi lebik baik dan baik-baik saja. Ayo tidur, tidur
saja, tidak usah beri aku mimpi, aku hanya ingin tidur nyenyak dan besok akan
lebih baik dari hari ini, meski hatiku berkata itu klasik dan menyebalkan tapi
apa salahnya menjadi optimis?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar