Minggu, 28 Februari 2021

Keputusan Besar

 

14 januari 2021

Aku memakai hijab untuk pertama kali dan aku tahu, aku tidak main-main.

Aku tidak bisa kembali dan aku akan berusaha untuk tidak melepasnya.

Kenapa?

Banyak yang aku lalui di bulan desember kemarin. Menjadi pasien covid dan sampai detik ini pun aku masih belum dapat mecium bebauan dengan benar. Sebulan aku diam dirumah tanpa melakukan apapun. Merasa kecil tapi membukakan mataku dengan jelas, mana orang baik dan mana orang yang kurang baik. Aku berpikir, mungkin tujuan Tuhan menurunkan virus ini ya untuk menyadarkan manusia bahwa hijab dan cadar melindungi para wanita dari hal macam virus ini, makanya kita harus melindungi diri kita dengan memakai masker. Mereka bisa menempel dimanapun salah satunya rambut. Rusaklah rambutku bila harus keramas tiap malam. Mungkin saja, ini hanya pemahamanku. Tapi pada akhirnya aku harus menutup rambutku bukan?

Lalu, aku dicaci maki tetangga yang sama sekali bukan tandinganku, mereka orang yang tidak berpendidikan dan bodoh, maaf tapi itulah kenyataannya. Kita tak pernah menang berdebat dengan orang bodoh bukan? Mereka juga melakukan kekerasan kepadaku. Dan aku hanya bisa diam tanpa bisa membalas apapun. Dari kejadian inipun aku tahu siapa yang benar-benar membela atau hanya pura-pura membela. Ibuku juga berusaha merelakan rumah ini untuk dijual karena lingkungan ini sudah membuat kami gerah dengan keadaan tetangganya. Itu kenapa aku selalu ingin hidup di rumah komplek. Bahkan, aku tidak bisa melupakan orang yang sudah menghina kami sedikitpun. Orang bodoh itu selalu aku ingat dan dihari dimana aku tidak bersalah sama sekali tapi aku ditampar aku ingin sekali menjebloskannya ke penjara tapi, percuma karena hukumannya hanya akan beberapa bulan saja dan ketika orang itu keluar, maka dia akan semakin dendam pada kami, itu pertimbangan keluargaku.

Aku sampai tidak bisa tidur ketika memikirkan betapa dendam dan sakit hatinya saat harga diri ku dan ibuku diinjak injak oleh orang seperti itu. Dia sama saja menggali kuburannya sendiri. Karmanya akan segera datang, tidak hanya kepada perempuan jalang itu tapi kepada seluruh keluarganya bahkan keluarganya yang telah mati. Aku tidak peduli tapi dia akan membayarnya. Aku tahu Tuhan sedang merencanakan pembalasan untuknya.

Terakhir, aku terjatuh dari tangga dan sarafku sedikit terjepit. Hapir 2 bulan aku merasakan sakit yang tidak berujung dari punggung hingga menjalar ke kakiku. Aku kesulitan saat sholat, berdiri setelah duduk, duduk setelah berdiri, saat tidur maupun bangun. Kadang aku tak sengaja ingin menyerah tapi Tuhan sepertinya mengujiku apakah aku sanggup menerima semua ini. Tapi hari ini semua nya lebih baik, kesakitanku sedikit berkurang karena seseorang membenarkan syaraf-syarafku yang sedikit terganggu. Aku yakin besok dan seterusnya akan menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Tuhan benar-benar sayang padaku, bukan begitu? Aku tidak berbicara secara ironi tapi aku benar-benar mengatakannya. Aku pernah berdoa agar aku didekatkan dengan Nya dan Dia sepertinya mendengar doaku. Aku harus berhati-hati mulai sekarang. Aku akan berhati-hati ketika berdoa. Tuhan sangat amat peka terhadap doa aku tahu itu. Kau tak ingin mengacau lagi, aku akan lebih berhati-hati. Samapi aku lupa aku kesepian dan ingin sekali menemukan seseorang yang bisa aku andalkan saat aku dihina dan direndahkan oleh orang lain. 

Disamping itu, aku hanya ingin berusaha menjadi orang dengan versi lebih baik dari aku yang sebelumnya. Mungkin tak akan mudah, contohnya seperti aku berusaha mencoba memakai hijab dengan benar tapi aku tak akan menyerah. Beberapa waktu lalu aku ingin menyerah dan berhenti saja. Tapi aku masih di beri Tuhan untuk membenarkan apa yang belum benar.

Aku bersyukur Tuhan mash memberiku ujian-ujian ini. Oiya, teman kantorku resign karena suaminya hidup berbeda kota, jadi aku akan mempunyai job desk baru mulai dari bulan ini. Aku masih belajar tapi aku akan bisa menghadapinya.

Sebenarnya, aku juga ingin menikah dengan jodoh seumur hidupku tapi mungkin masih belum waktunya. Jadi ya tugasku adalah untuk menunggu, masih menunggu. Aku ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari sekarang. Aku harus mendapatkannya meski melihat umur, aku mungkin akan sedikit kesulitan.

Akan masih sedikit sulit tapi tenang saja, aku akan bisa melawatinya. Semua akan menjadi lebik baik dan baik-baik saja. Ayo tidur, tidur saja, tidak usah beri aku mimpi, aku hanya ingin tidur nyenyak dan besok akan lebih baik dari hari ini, meski hatiku berkata itu klasik dan menyebalkan tapi apa salahnya menjadi optimis?

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar