"Hujan jangan marah..."
Kalimat tersebut sering diucapkan beberapa orang akhir-akhir ini.
Aku kembali melukis, menggambar dan mewarnai. Setelah rehat untuk beberapa saat, aku kembali. hanya saja aku masih memikirkan akan aku warnai apa gambar sketsa yang sedang aku buat ini.
Langit sepertinya sedang bersedih, setiap hari dia selalu menangis dengan derasnya. Tanah dan rumput hanya bisa diam menyaksikan dirinya basah kuyup setiap hari. Apa karena hujan, sang pujangga belum juga menemukan perjamuannya.
Secepatnya, sang punjangga harus segera menemukan sang kekasih yang sedang menanti di sana. Seperti cerita Cinderella, si gadis yang akhir akhir ini di panggil si picik karena ternyata dia terbukti telah sengaja meninggalkan sepatu kacanya agar pangeran menemukan dan menikahinya.
Minggu, 29 Maret 2015
Kamis, 22 Januari 2015
Perang dan Rencana Mengalahkan Musuh Besar
Guess what? Ternyata hidup dengan predikat single itu ga terlalu buruk. Kita bisa kemanapun tanpa ada yang ganggu, nglakuin hal yang kita suka tanpa ada yang nglarang, plus fokus sama apa yang lagi kita coba capai.
Stop! itu omong kosong! siapa yang tahan hidup tanpa seseorang, sebut saja dia pacar. Ga ada yang bisa kamu hubungi , ga ada yang nanya "udah pulang?". Fuck! I miss that kind of shit!
Ok, jadi... ada dimana kita tadi? it's all about you and yourself. Sejauh mana kamu bisa memerangi diri kamu sendiri. I mean, pikiran dan perasaan itu harusnya sedikit lebih sinkron dan bisa berakur. Ayolah, dunia tidak segampang omongan Mario Teguh. He just say it! Seorang teman berkata, "Segimanapun kamu berusaha membuat orang mengerti dan meminta dia memberi jawaban atas kebingunganmu, hanya diri kamu sendiri yang dapat menjawabnya". Yup, Orang lain hanya dapat membayangkan, bukan merasakan. Mereka tidak akan mungkin bisa mengerti dan memposisikan dirinya di posisi orang lain. That's the ugly truth.
Mari berperang hingga titik darah penghabisan. Bukan memerangi orang lain, ini tentang memerangi diri kamu sendiri. Bagaimana kamu harus berdamai dengan semua yang kamu miliki, mencari jawaban yang selama ini kamu cari, dan mendapatkan akhir yang tidak merugikan siapapun. Kamu harus berdamai dengan ego dan teman-teman. Musuh terbesar adalah diri kamu sendiri. Jauh didalam diri kamu tersimpan semua pikiran keji yang bisa saja suatu hati kamu keluarkan. Who knows?
Mari akhiri lanturan ini dengan... Let's begin the war!!!
[22/1/2015]
[22/1/2015]
Rabu, 07 Januari 2015
Sutradara Munafik
Mungkin banyak bertanya adalah perbuatan yang sangat tolol, tapi kau tau hal yang lebih tolol dari itu? berbicara di samping telinga orang yang kau bicarakan. Mungkin tidak bermaksud menyinggung tapi yang baru saja terjadi benar - benar menyinggung.
Masuk akal jika seseorang salah lalu di marahi, tapi apa seseorang tak bersalah harus juga di marahi? Ibu yang satu ini memang kurang profesional dalam melakukan pekerjaannya. Tidak bisa mengesampingkan mana pribadi dan pekerjaan.
Terlihat lugu tapi berbahaya. Tersiksanya melihat semua orang disini berusaha memerankan putri, pangeran, dan raja yang baik hati. Aku tau di antara mereka juga ada ratu jahat sebenarnya. Tak harus selalu jadi Snow White atau Cinderella, kadang menjadi Malificent atau Rumpelstitskin juga diperlukan.
Hentikan semua drama goblok ini, bisakah seseorang menolongku untuk menghentikan semua drama? Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri dan berhenti dari peran konyol ini tapi aku tidak ingin mengundurkan diri dari barisan calon sutradara. Dilema macam apa ini? Tak sedikitpun cerita aku jadikan pertunjukan. Sutradara yang tidak produktif, label ku sekarang. Aku tidak berhenti membuat pertunjukan, hanya saja karakter yang aku inginkan belum aku temukan.
Si tengil? Holly boy? Hell boy? Arogan man atau karakter - karakter di pertunjukan sebelumnya sudah aku hapuskan. Aku ingin peran baru dengan karakter yang sedikit liar tapi lembut. Aku butuh pemain baru, tapi bukan di tempat ini. Aku ingin setting baru sesuai ceritaku.
Aku ingin pergi ketempat dimana hanya ada orang yang tulus dan bisa membuatku mengsinkronisasi antara perasaan dan pikiran.Ini akan jadi perjalanan yang lebih menyakitkan dibanding sebelumnya. Mungkin aku hanya perlu memakai helm dan pelindung lutut agar jika terjatuh aku tidak mengalami luka yang cukup serius. Itu hanya untuk meminimalisir, bukan mencegah.
Masuk akal jika seseorang salah lalu di marahi, tapi apa seseorang tak bersalah harus juga di marahi? Ibu yang satu ini memang kurang profesional dalam melakukan pekerjaannya. Tidak bisa mengesampingkan mana pribadi dan pekerjaan.
Terlihat lugu tapi berbahaya. Tersiksanya melihat semua orang disini berusaha memerankan putri, pangeran, dan raja yang baik hati. Aku tau di antara mereka juga ada ratu jahat sebenarnya. Tak harus selalu jadi Snow White atau Cinderella, kadang menjadi Malificent atau Rumpelstitskin juga diperlukan.
Hentikan semua drama goblok ini, bisakah seseorang menolongku untuk menghentikan semua drama? Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri dan berhenti dari peran konyol ini tapi aku tidak ingin mengundurkan diri dari barisan calon sutradara. Dilema macam apa ini? Tak sedikitpun cerita aku jadikan pertunjukan. Sutradara yang tidak produktif, label ku sekarang. Aku tidak berhenti membuat pertunjukan, hanya saja karakter yang aku inginkan belum aku temukan.
Si tengil? Holly boy? Hell boy? Arogan man atau karakter - karakter di pertunjukan sebelumnya sudah aku hapuskan. Aku ingin peran baru dengan karakter yang sedikit liar tapi lembut. Aku butuh pemain baru, tapi bukan di tempat ini. Aku ingin setting baru sesuai ceritaku.
Aku ingin pergi ketempat dimana hanya ada orang yang tulus dan bisa membuatku mengsinkronisasi antara perasaan dan pikiran.Ini akan jadi perjalanan yang lebih menyakitkan dibanding sebelumnya. Mungkin aku hanya perlu memakai helm dan pelindung lutut agar jika terjatuh aku tidak mengalami luka yang cukup serius. Itu hanya untuk meminimalisir, bukan mencegah.
Senin, 05 Januari 2015
Malas
Siapa yang tak kenal dengan rutinitas? setelah kuliah, apa yang akan kamu pilih? melanjutkan kuliah?
Mencari pekerjaan? semua itu pilihan. Tapi jika kamu ingin cari aman, berkawanlah dengan rutinitas. Tapi jika kamu tidak mau berteman dekan dengan dia, lakukan saja. Semua kembali kepada pilihan kita masing - masing.
Aku mungkin memilih berteman dengan rutinitas dan menjadi orang biasa sekarang. Meninggalkan semua mimpi anak kecil demi mendapatkan sesuap nasi. Berbaju rapi dan musuh besar dari kemacetan. Bagaimana ini bisa terjadi? menyedihkan? tidak terlalu.
Mari nikmati keterjebakan ini untuk sesaat yang agak lama. Untuk mencapai tingkat ini, kita harus melewati banyak rawa dan hutan yang mungkin sebearnya tidak terlalu lebat. Tentang melakukan apa yang kita tidak suka memang masih jadi perdebatan kusir. Tetap bertahan, berhenti, atau tetap bertahan tapi bersabar untuk menabung agar suatu hari nanti kita bisa melep[askan diri dari cengkraman rutinitas yang tidak sinkron dalam hidup kita.
Ayolah... hentikan semua teori - teori konyol dan sadarlah! Dunia nyata tak seindah apa yang harapkan. Maksudku, untuk menjadikannya indah seindah harapan kita, kata instan itu benar - benar tolol! Aku malas menulis kalimat penutup.
Mencari pekerjaan? semua itu pilihan. Tapi jika kamu ingin cari aman, berkawanlah dengan rutinitas. Tapi jika kamu tidak mau berteman dekan dengan dia, lakukan saja. Semua kembali kepada pilihan kita masing - masing.
Aku mungkin memilih berteman dengan rutinitas dan menjadi orang biasa sekarang. Meninggalkan semua mimpi anak kecil demi mendapatkan sesuap nasi. Berbaju rapi dan musuh besar dari kemacetan. Bagaimana ini bisa terjadi? menyedihkan? tidak terlalu.
Mari nikmati keterjebakan ini untuk sesaat yang agak lama. Untuk mencapai tingkat ini, kita harus melewati banyak rawa dan hutan yang mungkin sebearnya tidak terlalu lebat. Tentang melakukan apa yang kita tidak suka memang masih jadi perdebatan kusir. Tetap bertahan, berhenti, atau tetap bertahan tapi bersabar untuk menabung agar suatu hari nanti kita bisa melep[askan diri dari cengkraman rutinitas yang tidak sinkron dalam hidup kita.
Ayolah... hentikan semua teori - teori konyol dan sadarlah! Dunia nyata tak seindah apa yang harapkan. Maksudku, untuk menjadikannya indah seindah harapan kita, kata instan itu benar - benar tolol! Aku malas menulis kalimat penutup.
Kamis, 06 November 2014
Dunia Nyatakah?
Inilah
kehidupan dan inilah dunia nyata.
Bukan,
ini bukan benar – benar dunia nyata, masih sedikit fantasi, setengah fantasi
maksudnya. Terasa masih seperti mimpi saat harus berteman dengan rutinitas
setiap hari. Sarapan dengan klason kendaraan, lampu merah, absen dan semuanya
adalah bagian dari rutinitas setiap pagi.
Sesampainya
di tempat berlangsungnya rutinitas, dering telepon dan seperangkat computer menanti
dengan sebegitu sabarnya. Gantungan yang bertuliskan ‘closed’ dibalikan dan took
telah dibuka, ‘open’. Email, chat, medsos jam dinding semuanya bekerja tanpa
henti. Apa mereka tidak lelah?
Jam
pulang dan waktunya berpamitan dengan si rutinitas. Macet, klakson kendaran dan
semuanya seolah menyambut kepulangan teman si rutinitas. Mereka juga tak pernah
lelah bekerja setiap harinya. Kasian. Rutinitas selalu memaksa memaksa mereka
untuk tetap bekerja stiap waktu.
Ingin
berhenti? Pasti tapi, inilah siklus yang berjalan. Keluar dari siklus? Sedikit mungkin,
sedikit. Seperti halnya orang pacaran, pasti bertengkar lalu putus pada
akhirnya meski ada dua kemungkinan, putus lalu menikah atau putus dan hanya
ber-label mantan pacar.
Rodanya
sedang berputar, kalau rodanya dihentikan dan dirusakan, aku akan terus disini
sampai mati nanti.
Minggu, 19 Oktober 2014
Dunia Nyata
Aku Sela Fitriani dari sini melaporkan bahawa semua orang sibuk hari ini. Kantor sepi melompong dan hanya ada mba Yus, mba Tari dan mas Kahar. Ok, sebelumnya maaf jika tidak ada prolog terlebih dahulu.
Hidup baru telah di mulai. Kemarin adalah latihan dimana kita harus bisa bertahan di dunia yang cukup menguras semua tenaga kita entah iitu tenaga dalam maupun luar. 3 tahun cukuplah untuk hidup di dunia perkuliahan. Sekarang kita jajal dunia baru dimana kita benar-benar tidak dapat kembali. Dari pelembab bibir biasa menjadi lipstik merah gincu.
Mba Yus adalah finance di kantor cabang ini sedangkan Mba Tari adalah salah satu marketing dan Mas Kahar adalah seorang teknisi yang hari ini datang kepagian. Dunia baru, dunia kerja. Selamat tinggal dunia perkuliahan, selamat tinggal dunia yang selalu berkata "welcome to the jungle kepada para mahasiswa barunya!". Kalian tau? ini hutan yang sesungguhnya, maksudku ini hutan dengan level keliaran yang lebih tinggi.
Mba Yus adalah finance di kantor cabang ini sedangkan Mba Tari adalah salah satu marketing dan Mas Kahar adalah seorang teknisi yang hari ini datang kepagian. Dunia baru, dunia kerja. Selamat tinggal dunia perkuliahan, selamat tinggal dunia yang selalu berkata "welcome to the jungle kepada para mahasiswa barunya!". Kalian tau? ini hutan yang sesungguhnya, maksudku ini hutan dengan level keliaran yang lebih tinggi.
Apa kabar insan manusia? Apa kabar pria penggoda? Dan apa kabar pria yang selalu menyusahkan dan disusahkan. Apa kabar juga para jalang yang selalu bercerita tentang kebrengsekan dunia luar. Apa kabar semua? Semoga kalian baik-baik saja disana dan semoga selalu diberkati Tuhan setiap saat.
Senin, 18 Agustus 2014
Masih Tentang Anak Petani
Masih tentang anak petani. Dipandangnya
minyak kayu putih berwarna hijau lalu dibalurkannya minyak itu ke badannya
sendiri. Dengan pilu, anak petani berkata dalam hati, “meski aku tidak pernah
merasakannya secara real, aku tahu, dia menyayangiku seperti dia menyayangi
anaknya yang lain”.
“Kenapa tidak terasa hangat yah? Apa karena
minyak kayu putih ini sudah kadarluarsa?” tanya si anak petani dalam hati.
Sembari tersenyum miris anak petani berpikir bahwa “aku sudah besar sekarang,
minyak seperti ini mana mungkin bisa membuat tubuhku hangat?! Bodoh!!aku seudah
besar sekarang, minyak seperti ini mana mungkin bisa membuat tubuhku hangat?!
Bodoh!!aku seudah besar sekarang, minyak seperti ini mana mungkin bisa membuat
tubuhku hangat?! Bodoh!”.
Wajahnya sedikit berbeda dari enam tahun yang
lalu terakhir kali aku melihatnya. Melihat wajahnya membuatku sedih, menyentuh
tangannya membuatku sengsara. Perasaan itu kembali datang saat kulit tangannya
menyentuh kepalaku. Perasaan dimana amarah atas konspirasi suatu jati diri
diperkesalkan.
Memandang gambar – gambar di tembok kamarnya
membuatku iri, “kenapa tidak ada gambarku disini? Anak – anak perempuan lain
malah yang dipajang di dinding kamarnya. Alaaaah persetan dengan itu!” pikirku
dalam hati. Tapi perasaan luka sedikit terobati ketika aku lihat raut wajahnya
senang melihat kami dapat mengunjunginya. Apalagi raut wajah kerinduan terhadap
mantan istrinya yang juga datang mengantar anak – anaknya.
Sedikit tapi tidak banyak, kenapa aku sedikit
mengerti sekarang. Mungkin bukan hal yang mudah untuk melupakan kisah selama 27
tahun lamanya, bukan mungkin tapi memang sulit. Tak heran, mereka masih sedikit
menyimpan perasaan nostalgia itu. Waktu serasa berhenti saat aku memandang
wajahnya yang kini tak lagi segar seperti dulu. Muncul banyak pertanyaan yang
harusnya tak kupertanyakan karena mungkin aku sudah tahu apa jawabannya.
Pilu, benar – benar pilu.
Langganan:
Postingan (Atom)