Selasa, 08 September 2020

Kembali Ep. (26)

 Hi, aku kembali, dengan usaha keras aku mencoba untuk kembali menulis.

Aku mulai berhenti karena aku tidak punya alasan untuk menulis. Bukan karena aku terlalu sibuk dengan dunia, tapi aku bahkan banyak membuang waktu percuma di luar sana. Sudah lama aku ingin bercerita ini, itu tapi aku memutuskan untuk menyimpannya saja. Toh, aku berpikir meski aku menulis lagi, tidak akan ada yang menemukan tulisan ini. 

Mari kita sebut ini krisis manusia 25 tahun oops, aku 26 sekarang dan masih belum tahu pasti apa yang akan aku lakukan di masa depan. Mimpi? Aku masih bermimpi menjadi seorang sutradara? Dancer? Pelatih dancer? CEO sebuah entertainment? Penulis? Banyak sekali aku ingin menjadi. Tapi aku tak pernah tahu pasti aku akan menjadi apa.

Tersesat? Tidak juga, aku rasa aku punya jalan yang cukup jelas meski remang-remang.  Saat ini aku hanya ingin merasa hidup. Aku lakukan semampuku dengan melakukan apapun yang terlintas di pikiranku. Medsos, youtube, dan hal – hal kekinian lainnya aku lakukan beberapa tahun terakhir ini. 

Seorang temanku mengeluh dia kehilangan teman yang sangat berharga baginya. Aku bahkan tak peduli lagi siapa temanku. Aku tak tahu harus percaya siapa, bahkan aku tak percaya diriku sendiri. Setelah apa yang terjadi dan semua yang masih terjadi dalam hidupku, rendah diri, tak percaya diri, merasa tak berharga, itulah yang aku rasakan beberapa tahun terakhir ini. 

Berharap datang seseorang bisa menyelamatkan hidupmu dan semua berakhir bahagia? Jangan pernah mengharapkan sesuatu dari manusia, hal terbodoh adalah berharap pada manusia. Kau tahu pasti kau akan terluka dan kecewa jika melakukan itu. Maka sejak suatu saat yang mengecewakan itu, aku tidak akan mengandalkan manusia dalam hal menemukan kebahagian, hanya aku, diriku dan Tuhan.

Aku benci mendengar sampah semua orang yang merasa hidup mereka tidak baik-baik saja, bahkan aku malas mengeluh sekarang, karena tak akan gunanya untuk mengeluhkan kehidupan yang sebenarnya indah ini. Indah? Hidup indah tak selalu terlihat indah bukan?

Setelah mengakhiri tulisan ini aku akan kembali menonton film dan tidur. 


Kembali Ep. (25)

 Kpop sudah membuatku kurang produktif 1 tahun ini. Membuatku memuja mereka para anggota boyband yang tak pernah ada habisnya. Sampai satu hari, akupun tersadar bahwa ini semua harus segera aku akhiri. Mengagumi mereka (KPOP) adalah hal benar-benar memuaskan tetapi semu.

Contohnya, saat aku memonton konser mereka, secara dekat aku bisa mendengarkan mereka bernyanyi langsung juga menikmati indahnya fisik mereka. Tetapi selalu ada perasaan kosong menyebalkan yang selalu hadir saat konser berakhir. Rasanya seperti dibangunkan dari mimpi ke dunia nyata yang … aku tidak inginkan. Kenapa? Karena sedikit pleasure atau kenikmatan yang dapat aku rasakan di dunia nyata. Sedangkan kenikmatan di dunia semu sangat memuaskan dan membuat kau ketagihan sehingga mengagumi mereka adalah hal yang sulit untuk dihentikan meski kau berusaha keras.

Kurang lebih 30 hari lagi aku akan berumur 25 tahun. Banyak sekali yang aku harapkan, salah satunya adalah meniup lilin di kue ulang tahun. Dan, aku sangat merindukannya… ya, dia. Dia yang sangat manis dan indah. Dimana aku harus menemukannya. Dia tampaknya tak mau datang lagi.


Kembali Ep. 0

 Lama sekali aku beristirahat. Sangat amat lama.

Terakhir aku bilang akan membuat pertunjukan lagi dan aku mencoba peruntungan dengan menulis fiksi, tapi tak pernah berhasil. Aku tak pernah menyelesaikan satu ceritapun. Aku tak pernah berhasil merangkai semua kerangka dengan benar meski aku telah menemukan ending yang tepat untuk cerita itu.

Lama sekali aku beristirahat, saatnya aku kembali. Aku ingin bercerita lagi, tentang semua yang ku rasakan selama beberapa waktu tanpa menulis. Ya, di tengah perang melawan si musuh tak kasat mata ini semua orang sedang bertempur. Bertempur mengalahkan keadaan yang seperti berjalan biasa padahal pembunuh tak terlihat selalu siap siaga membunuh kita kapanpun dan dimanapun kita berada.

Semua lini kelabakan, mencoba mempertahankan kehidupan masing-masing. Semuanya terengah engah berusaha mempertahankan hidupnya. Meski musuh semakin hari semakin dekat,semua manusia berharap si musuh tak terlihat hanya sekedar lewat dan berpura pura tak melihat mereka. Berusaha mengajak hidup berdampingan tanpa merugikan satu sama lain.

Apa bisa kita menang melawan musuh dalam perang ini? Aku sama sekali tak bisa membaca bagaimana perang ini bisa berakhir. 


Rabu, 20 Juni 2018

My One Night Stand Version


I want to share you about my One Night Stand Story.

Kebanyakan orang mengalami hal ini, maksudnya bagi yang sudah menginjak usia dimana kita sudah mengenal hubungan dengan lawan jenis seperti pacaran, tapi hanya orang “nakal” saja mungkin. But, jangan berpikir terlalu jauh. Ini bukan seperti One Night Stand orang kebanyakan. Aku akan mulai.
Beberapa hari lalu, aku bertemu dengan salah satu mantan pacar saat SMP. Dia masih saja seperti dulu, seperti itu. Singkat cerita aku jadi teringat terakhir kali aku bertemu dengan dia. Kejadian terakhir yang membuat aku selalu kikuk dibuatnya. Aku tak pernah bisa bersikap biasa setelah hari itu. Mungkin dia bisa bersikap biasa tapi tidak bagiku.

Beberapa tahun lalu, tahun pertama aku di perkuliahan mungkin sekitar 7 tahu yang lalu. Kami intens kembali berhubungan via telepon dan sms. Tak banyak yang kami lakukan tapi, malam itu benar-benar membosankan. Kami memutuskan bertemu untuk hanya sekedar nongkrong dan mengobrol.
Dia menjemputku saat sore menjelang malam. Saat itu adalah saat dimana aku sama sekali tak punya jati diri. Ibuku tak akan menanyakan aku sedang dimana atau dengan siapa. Dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri mungkin atau memang aku telah dipercaya menjadi anak yang dewasa.

Tak banyak yang aku pikirkan. Aku tak berpikir apa bahayanya bila aku pergi dengan seorang lelaki dimalam hari. Kami hanya mengobrol sana sini, miinum secangkir susu murni dan jam ternyata sudah menunjukan 11 malam. Aku sama sekali tak mau pulang karena saat itu, rumah adalah tempat paling membosankan di dunia. Tak ada yang bisa aku lakukan dirumah.

Diapun menawarkan aku untuk ikut ke tempat dimana dia kost. Akupun setuju, karena yang aku pikirkan saat itu adalah bersenang-senang. Tibanya di tempat kost, kami hanya mengobrol kembali dan saling bercanda. Tapi aku tak bisa berbohong, aku takut, aku ingin pulang karena hanya ada aku dan dia di kamar kost itu. Akupun tak bisa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya karena malam masih sangat panjang.

Dia mematikan lampu kamar dan akupun sadar saat itu kami sudah berbaring saling berhadapan, dia menyentuh pipiku lalu berkata “Aku ga pernah ngerti kenapa kamu minta kita putus, dengan alas an beda agama? Aku bener2 ga paham! Yang aku tau, aku masih suka kamu” and he kissed me on the cheek. Aku langsung membalikkan badan dan tak mengeluarkan kata apapun. Yang pasti dia tahu bahwa aku tak mau membahas itu. Dia memutar lagu Naif benci Untuk Mencinta dan mengantarkan aku tidur.

Saat fajar tiba, aku bangun segera karena aku ada kelas pagi hari itu. Dia mengantarkanku pulang. Setelah kejadian itu, aku sama sekali tak berani untuk membalas pesan atau apapun darinya. Aku tak tahu apakah itu perasaan takut atau apa yang pasti, aku hampir saja melakukan hal fatal malam itu. Hampir saja.


Jumat, 02 Februari 2018

Sebentar Lagi

Saatnya membuat pertunjukan lagi.

Entah apa yang akan sutradara tampilkan dia sendiri masih belum tahu. Kenapa? Karena sudah lama sang sutradara tak melakukan casting untuk mencari pemain baru. Dia sudah mencoba tapi, kelihatanya dia kehilangan passion untuk melakukan pertunjukan baru. Sutradara terlihat lelah tapi bosan. Tak banyak yang dapat dia lakukan. Dua tahun ini dia hanya makan sereal setiap pagi dan pergi menonton drama saat sore. Dan saat malam tiba, dia akan menatap langit untuk memperhatikan bintang atau bulan atau awan atau… langit yang kosong.

Sama sekali tak bisa dibaca apa yang sebenarnya ia ingin lakukan. Setelah berhenti dengan Anak Petani beberapa tahun lalu, dia masih juga tak menggerakan bolpoin yang setiap hari dia pegang. Beberapa orang datang beberapa bulan kemarin untuk melakukan casting tapi, sama sekali tak ada satupun yang sutradara pilih. Dia malah menyuruh mereka pulang.
Malam ini, dia ambil kembali bolpoin merah yang biasa dia pakai untuk menulis naskah, disampingnya terlihat kertas sketsa berwarna coklat yang sama sekali tak ia sentuh lalu dia memandang langit yang sedang mendung dari atas gedung dengan tatapan bertanya. Setelah beberapa lama, dia ambil tumpukan kertas coklat itu dan mulai menulis sesuatu.

“Waktunya sudah hampir tiba..” gumamnya sembari menyimpan kembali tumpukan kertas coklat beserta bolpoinnya.

Ditempat yang berbeda, seorang perempuan sedang berdiri diam di atas panggung kosong. Tak terdengar sedikit pun suara aula tersebut, hanya suara nafas nya yang sesekali dia tarik lalu dibuang dengan terpaksa tanda putus asa. “Aku ingin bermain lagi. Kenapa sang sutradara tak menulis naskah dan melakukan pertunjukan lagi, meski akan sedikit penonton yang datang, aku tetap akan ikut casting dan berusaha mendapatkan peran utama” bilangnya pada kursi penonton yang kosong. Tak berselang beberapa menit, diapun menari dalam sepi. 

Minggu, 29 Oktober 2017

Sajak Tanpa Arah

Angin datang dari selatan
Membawa nyanyian hampa
Kadang dia membawa awan mendung tanpa memberitahu
Aku duduk di kursiku menanti
Menanti datangnya angin membawa berita
Bukan awan atau hujan

Temanku bertingkah aneh akhir akhir ini
Dia berjalan menyusuri sungai hingga berenang jauh untuk menangkap ikan
Aku bilang, “Jangan lupa untuk kembali, aku berjanji takkan meminta ikanmu bila kau kembali” 
tapi sepertinya tak terdengar olehnya.

Aku masih duduk di kursi, aku sedang memperhatikan cicak
Cicak yang sedang mengobrol di atas itu sepertinya sedang membicarakan hal serius
Apa mungkin mereka sedang bertengkar?

Hah, aku hanya manusia yang pasti nya tak akan mengerti bahasa cicak
Mengerti bahasa manusia saja sulit terkadang apalagi bahasa hewan

Sedang apa aku ini

2017-06-17

I Miss My Old Friends

Karena yang lebih mengerikan adalah kesepian saat kita tidak sendiri.


Arahku tak menentu, aku kehilangan beberapa teman. Ingin ku menghubungi tapi perasaan takut mengganggu selalu menjadi ke-suudzonan masa kini. Aku rindu mereka. Aku butuh mereka. Salah seorang teman menghubungiku kemarin pagi. Dia bilang aku telah mengganggu mimpinya. Aku hanya bilang “aku merindukanmu teman” seolah sudah menjadi basa basi untuk berjanji akan bertemu tetapi tak pernah ada satupun pertemuan yang terjadi.

Aku bertanya, apakah aku yang terlalu lamban atau orang-orang yang terlalu cepat?
Salah satu temanku berkata “kau beruntung memiliki ibu yang sangat perhatian, dia selalu membekalimu makanan yang enak setiap hari” aku berkata “kau tahu kenapa? Karena dulu ibuku sibuk mencari uang sampai aku tak pernah sedikitpun kekurangan sesuatu. Dan hanya hari pertama sekolah ibu antar aku, ibu juga membiarkan menjadi anak mandiri karena berkatnya, aku bisa menyebrang jalan sendiri saat pulang sekolah, memakai dasi sendiri dan mengikat tali sepatu sendiri. Kenangan yang tidak boleh aku lupakan.


Mereka hanya tahu namaku bukan ceritaku.