Kamis, 07 Januari 2016

Takut?

Aku tidur dalam kebingungan dan bangun dalam ketidakpastian.
Arah yang dulu terlihat jelas kini semakin buram tertelan asap yang semakin hari semakin tebal.
Aku menghilang sejenak, tenggelam dalam kebingungan dan semua pertanyaan-pertanyaan konyol
Aku punya jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan itu, hanya saja tidak satu orang pun dapat membantuku menjawab satu pertanyaan
"bagaimana?"

Takut. aku tidur dalam ketakutan, aku makan dalam ketakutan dan hidup dalam ketakutan setiap saat.
Dia menyerangku setiap waktu. Dia tidak berhenti memburuku. Entah bagaimana aku bisa keluar dari siksaan ini.

 hah.. bicara apa aku ini, aku hanya bicara omong kosong setiap saat tanpa mencoba membuktikan bahwa aku punya keberanian untuk keluar dari zona menyebalkan ini.
Mencoba merangkai kalimat-kalimat indah agar seseorang mengerti semua yang aku keluhkan tentang dunia.

Aku tak sedikitpun berhenti mengeluh. mengeluhkan hal yang semua orang mengalaminya. sedikit menyebalkan ketika tau beberapa orang hanya menjadikan hal seperti ini bagian yang sangat kecil dan tidak penting. Sedangkan aku selalu menjadikan semuanya panggung yang harus di tampilkan dengan akting yang hyperbole dan penuh dengan gairah akan hidup yang orang lain bahkan tidak peduli.

Aku akan berhenti bicara omong kosong bila kebahagiaan datang menghampiriku. tapi dia salah besar,
kebahagiaan tidak datang dengan sendirinya. Kebahagiaan tentunya datang berdasarkan rasa kebersyukuran kita terhadap semua yang Tuhan beri pada kita.

Minggu, 29 Maret 2015

....

"Hujan jangan marah..."
Kalimat tersebut sering diucapkan beberapa orang akhir-akhir ini.

Aku kembali melukis, menggambar dan mewarnai. Setelah rehat untuk beberapa saat, aku kembali. hanya saja aku masih memikirkan akan aku warnai apa gambar sketsa yang sedang aku buat ini.

Langit sepertinya sedang bersedih, setiap hari dia selalu menangis dengan derasnya. Tanah dan rumput hanya bisa diam menyaksikan dirinya basah kuyup setiap hari. Apa karena hujan, sang pujangga belum juga menemukan perjamuannya.

Secepatnya, sang punjangga harus segera menemukan sang kekasih yang sedang menanti di sana. Seperti cerita Cinderella, si gadis yang akhir akhir ini di panggil si picik karena ternyata dia terbukti telah sengaja meninggalkan sepatu kacanya agar pangeran menemukan dan menikahinya.




Kamis, 22 Januari 2015

Perang dan Rencana Mengalahkan Musuh Besar

Guess what? Ternyata hidup dengan predikat single itu ga terlalu buruk. Kita bisa kemanapun tanpa ada yang ganggu, nglakuin hal yang kita suka tanpa ada yang nglarang, plus fokus sama apa yang lagi kita coba capai.

Stop! itu omong kosong! siapa yang tahan hidup tanpa seseorang, sebut saja dia pacar. Ga ada yang bisa kamu hubungi , ga ada yang nanya "udah pulang?". Fuck! I miss that kind of shit! 

Ok, jadi... ada dimana kita tadi? it's all about you and yourself. Sejauh mana kamu bisa memerangi diri kamu sendiri. I mean, pikiran dan perasaan itu harusnya sedikit lebih sinkron dan bisa berakur. Ayolah, dunia tidak segampang omongan Mario Teguh. He just say it! Seorang teman berkata, "Segimanapun kamu berusaha membuat orang mengerti dan meminta dia memberi jawaban atas kebingunganmu, hanya diri kamu sendiri yang dapat menjawabnya". Yup, Orang lain hanya dapat membayangkan, bukan merasakan. Mereka tidak akan mungkin bisa mengerti dan memposisikan dirinya di posisi orang lain. That's the ugly truth.

Mari berperang hingga titik darah penghabisan. Bukan memerangi orang lain, ini tentang memerangi diri kamu sendiri. Bagaimana kamu harus berdamai dengan semua yang kamu miliki, mencari jawaban yang selama ini kamu cari, dan mendapatkan akhir yang tidak merugikan siapapun. Kamu harus berdamai dengan ego dan teman-teman. Musuh terbesar adalah diri kamu sendiri. Jauh didalam diri kamu tersimpan semua pikiran keji yang bisa saja suatu hati kamu keluarkan. Who knows?

Mari akhiri lanturan ini dengan... Let's begin the war!!!

[22/1/2015]


Rabu, 07 Januari 2015

Sutradara Munafik

Mungkin banyak bertanya adalah perbuatan yang sangat tolol, tapi kau tau hal yang lebih tolol dari itu? berbicara di samping telinga orang yang kau bicarakan. Mungkin tidak bermaksud menyinggung tapi yang baru saja terjadi benar - benar menyinggung.

Masuk akal jika seseorang salah lalu di marahi, tapi apa seseorang tak bersalah harus juga di marahi? Ibu yang satu ini memang kurang profesional dalam melakukan pekerjaannya. Tidak bisa mengesampingkan mana pribadi dan pekerjaan.

Terlihat lugu tapi berbahaya. Tersiksanya melihat semua orang disini berusaha memerankan putri, pangeran, dan raja yang baik hati. Aku tau di antara mereka juga ada ratu jahat sebenarnya. Tak harus selalu jadi Snow White atau Cinderella, kadang menjadi Malificent atau Rumpelstitskin juga diperlukan.

Hentikan semua drama goblok ini, bisakah seseorang menolongku untuk menghentikan semua drama? Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri dan berhenti dari peran konyol ini tapi aku tidak ingin mengundurkan diri dari barisan calon sutradara. Dilema macam apa ini? Tak sedikitpun cerita aku jadikan pertunjukan. Sutradara yang tidak produktif, label ku sekarang. Aku tidak berhenti membuat pertunjukan, hanya saja karakter yang aku inginkan belum aku temukan.

Si tengil? Holly boy? Hell boy? Arogan man atau karakter - karakter di pertunjukan sebelumnya sudah aku hapuskan. Aku ingin peran baru dengan karakter yang sedikit liar tapi lembut. Aku butuh pemain baru, tapi bukan di tempat ini. Aku ingin setting baru sesuai ceritaku.

Aku ingin pergi ketempat dimana hanya ada orang yang tulus dan bisa membuatku mengsinkronisasi antara perasaan dan pikiran.Ini akan jadi perjalanan yang lebih menyakitkan dibanding sebelumnya. Mungkin aku hanya perlu memakai helm dan pelindung lutut agar jika terjatuh aku tidak mengalami luka yang cukup serius. Itu hanya untuk meminimalisir, bukan mencegah.

Senin, 05 Januari 2015

Malas

Siapa yang tak kenal dengan rutinitas? setelah kuliah, apa yang akan kamu pilih? melanjutkan kuliah?
Mencari pekerjaan? semua itu pilihan. Tapi jika kamu ingin cari aman, berkawanlah dengan rutinitas. Tapi jika kamu tidak mau berteman dekan dengan dia, lakukan saja. Semua kembali kepada pilihan kita masing - masing.

Aku mungkin memilih berteman dengan rutinitas dan menjadi orang biasa sekarang. Meninggalkan semua mimpi anak kecil demi mendapatkan sesuap nasi. Berbaju rapi dan musuh besar dari kemacetan. Bagaimana ini bisa terjadi? menyedihkan? tidak terlalu.

Mari nikmati keterjebakan ini untuk sesaat yang agak lama. Untuk mencapai tingkat ini, kita harus melewati banyak rawa dan hutan yang mungkin sebearnya tidak terlalu lebat. Tentang melakukan apa yang kita tidak suka memang masih jadi perdebatan kusir. Tetap bertahan, berhenti, atau tetap bertahan  tapi bersabar untuk menabung agar suatu hari nanti kita bisa melep[askan diri dari cengkraman rutinitas yang tidak sinkron dalam hidup kita.

Ayolah... hentikan semua teori - teori konyol dan sadarlah! Dunia nyata tak seindah apa yang harapkan. Maksudku, untuk menjadikannya indah seindah harapan kita, kata instan itu benar - benar tolol! Aku malas menulis kalimat penutup.

Kamis, 06 November 2014

Dunia Nyatakah?

Inilah kehidupan dan inilah dunia nyata.

Bukan, ini bukan benar – benar dunia nyata, masih sedikit fantasi, setengah fantasi maksudnya. Terasa masih seperti mimpi saat harus berteman dengan rutinitas setiap hari. Sarapan dengan klason kendaraan, lampu merah, absen dan semuanya adalah bagian dari rutinitas setiap pagi.

Sesampainya di tempat berlangsungnya rutinitas, dering telepon dan seperangkat computer menanti dengan sebegitu sabarnya. Gantungan yang bertuliskan ‘closed’ dibalikan dan took telah dibuka, ‘open’. Email, chat, medsos jam dinding semuanya bekerja tanpa henti. Apa mereka tidak lelah?

Jam pulang dan waktunya berpamitan dengan si rutinitas. Macet, klakson kendaran dan semuanya seolah menyambut kepulangan teman si rutinitas. Mereka juga tak pernah lelah bekerja setiap harinya. Kasian. Rutinitas selalu memaksa memaksa mereka untuk tetap bekerja stiap waktu.

Ingin berhenti? Pasti tapi, inilah siklus yang berjalan. Keluar dari siklus? Sedikit mungkin, sedikit. Seperti halnya orang pacaran, pasti bertengkar lalu putus pada akhirnya meski ada dua kemungkinan, putus lalu menikah atau putus dan hanya ber-label mantan pacar.


Rodanya sedang berputar, kalau rodanya dihentikan dan dirusakan, aku akan terus disini sampai mati nanti.  

Minggu, 19 Oktober 2014

Dunia Nyata


Aku Sela Fitriani dari sini melaporkan bahawa semua orang sibuk hari ini. Kantor sepi melompong dan hanya ada mba Yus, mba Tari dan mas Kahar. Ok, sebelumnya maaf jika tidak ada prolog terlebih dahulu.

Hidup baru telah di mulai. Kemarin adalah latihan dimana kita harus bisa bertahan di dunia yang cukup menguras semua tenaga kita entah iitu tenaga dalam maupun luar. 3 tahun cukuplah untuk hidup di dunia perkuliahan. Sekarang kita jajal dunia baru dimana kita benar-benar tidak dapat kembali. Dari pelembab bibir biasa menjadi lipstik merah gincu.

Mba Yus adalah finance di kantor cabang ini sedangkan Mba Tari adalah salah satu marketing dan Mas Kahar adalah seorang teknisi yang hari ini datang kepagian. Dunia baru, dunia kerja. Selamat tinggal dunia perkuliahan, selamat tinggal dunia yang selalu berkata "welcome to the jungle kepada para mahasiswa barunya!". Kalian tau? ini hutan yang sesungguhnya, maksudku ini hutan dengan level keliaran yang lebih tinggi. 

Apa kabar insan manusia? Apa kabar pria penggoda? Dan apa kabar pria yang selalu menyusahkan dan disusahkan. Apa kabar juga para jalang yang selalu bercerita tentang kebrengsekan dunia luar. Apa kabar semua? Semoga kalian baik-baik saja disana dan semoga selalu diberkati Tuhan setiap saat.