Saat saat menyiksa ketika harus
merasa sama padahal berbeda.
Sayang anak petani itu tak bisa
melakukannya, membuat orang-orang merasakan sesuatu hilang dari hidup dan diri
mereka, anak petanitau itu hal yang sangat jahat. Melihat mereka yang ada dijalan sama dengannya
dan menyaksikan mereka meminta minta untuk hidup mereka.” Bagaimana dengan
hidupku?”pikir si anak petani. “Terpuruk dan menyedihkan”, mungkin itu hanya
persepsinya saja, “selalu melihat sesuatu hanya dari satu sudut pandang”pikirnya
lagi.
Hal yang paling miris adalah
melihat anak yang percaya bahwa keajaiban itu ada. Dunia mereka polos dan
nyaris tanpa dosa, mereka tak tau bahwa semua itu semu dan tak ada happy ending
seperti cerita cerita yang biasa mereka dengar setiap malam sebelum tidur. Mereka
terlalu bodoh dan suci untuk mengetahui itu semua.
Bagaimana dengan orang tua orang
tua mereka? Bisakah mereka mengerti kalau bukan ini yang anak mereka inginkan,
apa salah seorang anak berontak dan menyalahkan orang tua mereka atas apa yang
orang tua mereka lakukan. Mungkin sebagian anak atau bisa saja semua anak tidak
akan pernah mengerti atas pola pikir orang orang dewasa kecuali mereka diposisi
orang-orang dewasa itu. “Mereka begitu egois!” itu yang dikatakan anak anak
itu. Tidak ada orang yang tidak egois, sekalipun itu orang tuamu sendiri..gadis
itu berkata. Beberapa saat kemudian gadis itu berkata lagi, tak ada seorangpun
yang bisa kamu percaya, sekalipun itu dirimu sendiri. Lihat betapa tak amannya
hidupmu. Kau hanya bisa mempercayai dan meyakini satu, Tuhanmu. Kau juga tak
cukup pintar untuk tersenyum setiap waktu dan berpura pura tidak terjadi
sesuatu kepadamu. Aktingmu jelek dan buruk. Bisakah setiap orang bersikap apa
adanya? Tak berpura pura dan mengada ada, bersikap sewajarnya dan tersenyum
tulus kepada setiap mata yang bertemu.
Harapan dan harapan, anak petani itu
selalu berharap keajaiban datang menghampirinya. Apa yang akan terjadi apabila anak
petaniitu tau kalau keajaiban itu hanyalah harapan kosong tanpa kata maupun
ruang. Setiap malam dia hanya bisa menatap atap rusak dikamarnya, tak ada kata
ataupun suara keluar dari mulutnya, tetapi ada sebuah nyanyian yang selalu ia
lantuntan setiap malam sebelum tidurnya. Sebuah nyanyian yang tak pernah ada
seorangpun bisa mendengarnya. Hanya ia,Tuhan, jam dinding usang, tembok dingin
dan benda-benda mati yang bisa mendengarnya.
Seperti biasa, setelah ia
melantunkan nyanyian jiwanya ia akan mencoba menutup matanya ditengah kegelapan
dan membenamkan diri dalam selimut hangatnya. Anak petani juga manusia, ia
selalu ingin sesuatu yang indah bisa hinggap dalam mimpinya. Dan apabila
matanya masih belum bisa terpejam, kembali ingatan buruk dan meyedihkan akan
datang dan merasuk kedalam pikiranya juga hatinya.
Tanpa terasa air akan keluar dari
matanya. Kembali pertanyaan-pertanyaan konyol mucul, seperti”kenapa harus aku?”
“kenapa tidak mereka?” “kenapa mereka bisa tersenyum dan aku tidak?”. Kenapa,
kenapa, dan kenapa, anak petani tak pernah bosan menanyakan
pertanyaan-pertanyaan itu. “Ini konyol! Hidup ini konyol, beri aku satu
senyuman yang membuatku setidaknya bisa berpura pura tersenyum.”kata anak
petani itu.
Anak petani selalu merasa kesepian meski ditengah keramaian. Tak peduli seramai apa tapi ketika rasa sepi itu datang, ia tak mampu berbuat apa-apa. Rapuh, menyedihkan, dan terluka. Berkhayal dan berpura-pura bahagia, apa itu adil? Anak petani hanya bisa berpura-pura. Tak bisakah anak petani bersikap apa adanya. Tak berpura-pura, tersenyum tanpa ada pikiran lain hinggap dikepalanya. “abaikan saja aku!!” seru si anak petanidalam hati, dia tak mampu meneriakkan apa yang sebenarnya ia ingin utarakan. Pernah anak petaniberpikir tentang kematian, kematian mungkin akan membuat kita semua berada dinegara dimana tidak ada beban dan peran yang kita pikul, tapi siapa yang tau tentang kematian? Anak petani terlalu bodoh untuk memikirkan itu semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar