Kamis, 22 November 2012

Lembar Pertama


Saat saat menyiksa ketika harus merasa sama padahal berbeda.
Sayang anak petani itu tak bisa melakukannya, membuat orang-orang merasakan sesuatu hilang dari hidup dan diri mereka, anak petanitau itu hal yang sangat jahat.  Melihat mereka yang ada dijalan sama dengannya dan menyaksikan mereka meminta minta untuk hidup mereka.” Bagaimana dengan hidupku?”pikir si anak petani. “Terpuruk dan menyedihkan”, mungkin itu hanya persepsinya saja, “selalu melihat sesuatu hanya dari satu sudut pandang”pikirnya lagi.

Hal yang paling miris adalah melihat anak yang percaya bahwa keajaiban itu ada. Dunia mereka polos dan nyaris tanpa dosa, mereka tak tau bahwa semua itu semu dan tak ada happy ending seperti cerita cerita yang biasa mereka dengar setiap malam sebelum tidur. Mereka terlalu bodoh dan suci untuk mengetahui itu semua.

Bagaimana dengan orang tua orang tua mereka? Bisakah mereka mengerti kalau bukan ini yang anak mereka inginkan, apa salah seorang anak berontak dan menyalahkan orang tua mereka atas apa yang orang tua mereka lakukan. Mungkin sebagian anak atau bisa saja semua anak tidak akan pernah mengerti atas pola pikir orang orang dewasa kecuali mereka diposisi orang-orang dewasa itu. “Mereka begitu egois!” itu yang dikatakan anak anak itu. Tidak ada orang yang tidak egois, sekalipun itu orang tuamu sendiri..gadis itu berkata. Beberapa saat kemudian gadis itu berkata lagi, tak ada seorangpun yang bisa kamu percaya, sekalipun itu dirimu sendiri. Lihat betapa tak amannya hidupmu. Kau hanya bisa mempercayai dan meyakini satu, Tuhanmu. Kau juga tak cukup pintar untuk tersenyum setiap waktu dan berpura pura tidak terjadi sesuatu kepadamu. Aktingmu jelek dan buruk. Bisakah setiap orang bersikap apa adanya? Tak berpura pura dan mengada ada, bersikap sewajarnya dan tersenyum tulus kepada setiap mata yang bertemu.

Harapan dan harapan, anak petani itu selalu berharap keajaiban datang menghampirinya. Apa yang akan terjadi apabila anak petaniitu tau kalau keajaiban itu hanyalah harapan kosong tanpa kata maupun ruang. Setiap malam dia hanya bisa menatap atap rusak dikamarnya, tak ada kata ataupun suara keluar dari mulutnya, tetapi ada sebuah nyanyian yang selalu ia lantuntan setiap malam sebelum tidurnya. Sebuah nyanyian yang tak pernah ada seorangpun bisa mendengarnya. Hanya ia,Tuhan, jam dinding usang, tembok dingin dan benda-benda mati yang bisa mendengarnya.
Seperti biasa, setelah ia melantunkan nyanyian jiwanya ia akan mencoba menutup matanya ditengah kegelapan dan membenamkan diri dalam selimut hangatnya. Anak petani juga manusia, ia selalu ingin sesuatu yang indah bisa hinggap dalam mimpinya. Dan apabila matanya masih belum bisa terpejam, kembali ingatan buruk dan meyedihkan akan datang dan merasuk kedalam pikiranya juga hatinya.

Tanpa terasa air akan keluar dari matanya. Kembali pertanyaan-pertanyaan konyol mucul, seperti”kenapa harus aku?” “kenapa tidak mereka?” “kenapa mereka bisa tersenyum dan aku tidak?”. Kenapa, kenapa, dan kenapa, anak petani tak pernah bosan menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu. “Ini konyol! Hidup ini konyol, beri aku satu senyuman yang membuatku setidaknya bisa berpura pura tersenyum.”kata anak petani itu.

Anak petani selalu merasa kesepian meski ditengah keramaian. Tak peduli seramai apa tapi ketika rasa sepi itu datang, ia tak mampu berbuat apa-apa. Rapuh, menyedihkan, dan terluka. Berkhayal dan berpura-pura bahagia, apa itu adil? Anak petani hanya bisa berpura-pura. Tak bisakah anak petani bersikap apa adanya. Tak berpura-pura, tersenyum tanpa ada pikiran lain hinggap dikepalanya. “abaikan saja aku!!” seru si anak petanidalam hati, dia tak mampu meneriakkan apa yang sebenarnya ia ingin utarakan. Pernah anak petaniberpikir tentang kematian, kematian mungkin akan membuat kita semua berada dinegara dimana tidak ada beban dan peran yang kita pikul, tapi siapa yang tau tentang kematian? Anak petani terlalu bodoh untuk memikirkan itu semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar