Kamis, 17 Januari 2013

Keledai Tengil Bab Sekian


Takut jatuh, mungkin itu sedikit cocok, tapi sayangnya semua sudah terlambat, si keledai tengil sudah berhasil membuat anak petani merasakan ketakutan akan perasaannya sendiri. Antara takut dan aneh telah menemukan orang yang menyebalkan seperti keledai tengil. Tak dapat di pungkiri, anak petani menyayangi keledai tengil itu dengan perasaan lega sedikit takut. Apa yang dipikirkan anak petani sedikit terdengar konyol karena dia masih saja merasa takut akan sesuatu yang belum pasti terjadi. “tolong sedikit mengerti apa yang saya rasakan kepada anda, ini memang aneh tapi inilah yang saya rasakan sesungguhnya. Maaf jika saya masih saja belum dapat menerima anda dengan label yang saya tidak pernah tau apa tujuannya.”

“Hei keledai bodoh! Tanggung jawab!! “ anak petani minta pertanggung jawaban keledai tengil. “pertanggung jawaban atas apa?” keledai tengil menjawab. Tak ada kata lain selain konyol. Dan anak petani hanya menjawab dengan senyuman. Maaf dan terimakasih,
Untuk kesekian kali keledai tengil bertanya pada anak petani, “kangen ga?”. Tapi anak petani hanya tersenyum dan tidak mau menjawab pertanyaan itu. Memang bodoh karena anak petani tidak bisa mengatakan apa yang ia ingin katakan. Anak petani pikir, sesuatu yang disebut sayang itu memang sulit untuk dikatakan tapi mudah untuk lakukan. Ya, anak petani percaya bahwa semuanya akan menjadi nyata dengan adanya seseorang yang bisa membuatnya tidak takut menjadi pemimpi seperti kata kugi di film perahu kertas. Tapi apakah seseorang itu adalah keledai tengil? Anak petani dan semua orang disekitar anak petani tak pernah tau ending apa yang akan terjadi. Ending dari semua ending.

Dan untuk kedua kalinya si anak petani meneteskan air matanya untuk sesuatu yang ia sendiri tidak mengerti. Air mata apa ini.... dia bertanya – tanya kenapa ia menulis semua ini. Senang sekaligus takut. Semua yang ditulis disini tidak tuntas dan susah dimengerti oleh pembaca.

“Ya, saya juga menyayangi anda keledai tengil!” itu hal yang ingin anak petani katakan, tapi tidak bisa terucapkan karena terasa berat dan aneh bagi si anak petani. Anak petani tidak terbiasa mengucapkan kalimat – kalimat seperti itu. Ingin rasanya anak petani mengatakan pada semua orang bahwa ia bodoh dalam hal ini, ia benar – benar tidak tau cara memperlakukan sesuatu yang semacam ini. Hal – hal semacam sayang, sedih atau bahagia, semuanya hanya bisa ia gambarkan menjadi satu kata yaitu “ketus”. Dapatkah ia merubahnya? Merubah caranya memperlihatkan rasa sayang pada orang lain dengan benar? Mungkin anak petani tidak perlu untuk merubah itu semua karena inilah cara anak petani, bukan orang lain. Bukankah saat menyayangi seseorang kita harusnya menjadi diri kita sendiri. Yaa, itu benar sekali! Menjadi diri sendiri saat kita  menyayangi orang lain itu berarti sesuatu yang murni bukan? Tapi apakah anak petani menjadi dirinya sendiri saat ia mengaku menyayangi keledai tengil... anak petani belum mengetahuinya. Ia masih mencari apakah yang ia rasakan dan lakukan pada keledai tengil benar adanya. Yang anak petani pikirkan sekarang hanyalah pertanyaan – pertanyaan kenapa ia melakukan semua ini. Hanya itu. Mencari – cari sesuatu yang sebenarnya sudah ada itu lebih sulit  daripada mencari – cari sesuatu yang memang tidak atau belum ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar