Takut jatuh, mungkin itu sedikit cocok, tapi
sayangnya semua sudah terlambat, si keledai tengil sudah berhasil membuat anak
petani merasakan ketakutan akan perasaannya sendiri. Antara takut dan aneh
telah menemukan orang yang menyebalkan seperti keledai tengil. Tak dapat di
pungkiri, anak petani menyayangi keledai tengil itu dengan perasaan lega
sedikit takut. Apa yang dipikirkan anak petani sedikit terdengar konyol karena
dia masih saja merasa takut akan sesuatu yang belum pasti terjadi. “tolong sedikit
mengerti apa yang saya rasakan kepada anda, ini memang aneh tapi inilah yang
saya rasakan sesungguhnya. Maaf jika saya masih saja belum dapat menerima anda
dengan label yang saya tidak pernah tau apa tujuannya.”
“Hei keledai bodoh! Tanggung jawab!! “ anak
petani minta pertanggung jawaban keledai tengil. “pertanggung jawaban atas
apa?” keledai tengil menjawab. Tak ada kata lain selain konyol. Dan anak petani
hanya menjawab dengan senyuman. Maaf dan terimakasih,
Untuk kesekian kali keledai tengil bertanya
pada anak petani, “kangen ga?”. Tapi anak petani hanya tersenyum dan tidak mau
menjawab pertanyaan itu. Memang bodoh karena anak petani tidak bisa mengatakan
apa yang ia ingin katakan. Anak petani pikir, sesuatu yang disebut sayang itu
memang sulit untuk dikatakan tapi mudah untuk lakukan. Ya, anak petani percaya
bahwa semuanya akan menjadi nyata dengan adanya seseorang yang bisa membuatnya
tidak takut menjadi pemimpi seperti kata kugi di film perahu kertas. Tapi
apakah seseorang itu adalah keledai tengil? Anak petani dan semua orang
disekitar anak petani tak pernah tau ending apa yang akan terjadi. Ending dari
semua ending.
Dan untuk kedua
kalinya si anak petani meneteskan air matanya untuk sesuatu yang ia sendiri
tidak mengerti. Air mata apa ini.... dia bertanya – tanya kenapa ia menulis
semua ini. Senang sekaligus takut. Semua yang ditulis disini tidak tuntas dan
susah dimengerti oleh pembaca.
“Ya, saya juga
menyayangi anda keledai tengil!” itu hal yang ingin anak petani katakan, tapi
tidak bisa terucapkan karena terasa berat dan aneh bagi si anak petani. Anak
petani tidak terbiasa mengucapkan kalimat – kalimat seperti itu. Ingin rasanya
anak petani mengatakan pada semua orang bahwa ia bodoh dalam hal ini, ia benar
– benar tidak tau cara memperlakukan sesuatu yang semacam ini. Hal – hal
semacam sayang, sedih atau bahagia, semuanya hanya bisa ia gambarkan menjadi
satu kata yaitu “ketus”. Dapatkah ia merubahnya? Merubah caranya memperlihatkan
rasa sayang pada orang lain dengan benar? Mungkin anak petani tidak perlu untuk
merubah itu semua karena inilah cara anak petani, bukan orang lain. Bukankah
saat menyayangi seseorang kita harusnya menjadi diri kita sendiri. Yaa, itu
benar sekali! Menjadi diri sendiri saat kita
menyayangi orang lain itu berarti sesuatu yang murni bukan? Tapi apakah
anak petani menjadi dirinya sendiri saat ia mengaku menyayangi keledai
tengil... anak petani belum mengetahuinya. Ia masih mencari apakah yang ia
rasakan dan lakukan pada keledai tengil benar adanya. Yang anak petani pikirkan
sekarang hanyalah pertanyaan – pertanyaan kenapa ia melakukan semua ini. Hanya
itu. Mencari – cari sesuatu yang sebenarnya sudah ada itu lebih sulit daripada mencari – cari sesuatu yang memang
tidak atau belum ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar