Lagi, ketakutan
itu datang lagi. Ketakutan yang terus menerus berlalu lalang, dia enggan untuk
mengistirahatkan dirinya bahkan untuk sekedar membiarkan orang ini bernafas.
Kejam, benar benar kejam. Tolong beri kesempatan orang ini untuk menghela
nafasnya, sebentar saja. Bagaimana ini..., keluarkan orang ini dari ketakutan
yang nampaknya masih ingin tinggal lebih lama. Ketakutan akan sesuatu yang
tidak jelas. Ketakutan akan sesuatu yang tidak pasti dan belum terjadi.
Ketakutan yang akan sesuatu yang tolol dan konyol.
Lama – lama orang
ini akan membunuh dirinya sendiri dengan ketakutannya. Siapa yang dapat
menolongnya? Hanya dia sendiri yang mampu membuat dirinya merasa hidup tenang
tanpa ditemani ketakutan – ketakutan bodoh.
Kata takut itu
klasik. Tapi sangat berbahaya dan menyebalkan. Dia dapat membunuh orang tanpa
bertindak apa – apa. Lucu bukan kedengarannya?! Terus menerus merasa miris dan
menyedihkan. Situasi macam apa ini. Ini sedikit berlebihan, karena orang ini
terus menerus merasa takut. “Jangan sebut kata itu lagi!” Kata itu membuat
orang ini tidak bisa berpikir jernih.
Bagaimana cara
mempertahankan apa yang sudah kita punya? Bagaimana cara tau sesuatu itu murni?
Bagaimana cara mempercayai sesuatu yang tidak kita lihat? Sebenarnya orang ini
tau jawaban dari semua pertanyaan itu. Tapi apa yang membuat dia tidak bisa
berpikir? Apapun itu, orang ini juga sebenarnya tau jawabanya. Konyol bukan?
Mempertanyakan sesuatu yang sebenarnya sudah kita ketahui jawabannya.
“kajimaaa...”
dalam bahasa indonesia artinya jangan pergi.
Jangan pernah
membiarkan seseorang yang menyayangimu merasa lelah dan pergi meninggalkanmu.
Saat situasi tolol itu datang, dia akan mempertemukan mu dengan penyesalan,
sering kan kau mendengar kata itu. Banyak itu dan ini. Bisakah kau meyebutkan
apa yang ingin benar – benar kau sampaikan? Banyak kata kata tapi susah untuk
mengungkapkan kebenaran atas apa yang kau alami dan rasakan. Apa yang
membuatnya susah? Situasikah? Mulutmukah? Atau sesuatu yang lain yang lebih
sulit untuk dikatakan bahkan dipikirkan.
Saya tidak
menyukai perpisahan. Saya amat tidak menyukai itu. Kata – kata perpisahan itu
terdengar minor, tetapi adakah kalimat atau kata perpisahan yang terdengar
sedikit mayor? Bukankah nada minor lebih indah dan mempunyai rasa tersendiri
saat didengarkan? Seseorang bilang, “nada minor itu terdengar lebih miris dan
menarik” benar mungkin. Persepsi dan asumsi orang – orang itu berbeda.
Artikel macam apa
ini, orang – orang macam apa yang mau membaca bacaan yang tidak jelas ini.
orang2 macam temanmu lah yg baca artikel ini sel, masih vague sih, tapi saya bisa menyimpulkan sedikit
BalasHapustapi hari itu akan datang sel, tidak ada yang abadi yakan ?
yaaa, ga ada yang abadi..., sesuatu itu gampang datang trus gampang juga pergi!!! ahahahahahaaaa ^^
BalasHapus