Senin, 11 Februari 2013

Diorama yang masih berlanjut


Waktu itu, didengarnya cerita numerik si keledai tengil. Mendengar semua mimpi – mimpinya yang penuh dengan perhitungan, membuat anak petani mengerutkan keningnya dan berpikir “orang ini memang diciptakan bersama numerik yang menjadi kata – kata dalam hidupnya.” Semuanya dia hitung serinci mungkin agar tidak ada satupun rencana yang keluar dari perhitungan. Ini sangat gila! Ya, dia memang keledai tengil yang sangat mencintai angka atau lebih tepatnya saiko atas numerik – numerik itu.

Setelah menunggu beberapa waktu untuk mengetahui apakah keledai tengil jadi pergi atau tidak. Anak petani sedikit kesal atas keinginan keledai tengil yang hampir menjadi nyata, tapi saat semuanya terasa dekat dan hampir dia dapat, sesuatu telah membuatnya sedikit tidak menginginkan keinginan bodoh yang sebentar lagi dia dapat. Tapi apa yang bisa anak petani lakukan? Hanya bisa memberinya sesuatu yang mungkin tidak berharga, yaitu ucapan “semoga beruntung!”. Belum bisa anak petani bayangkan untuk dapat jauh dari keledai tengil karena anak petani sudah sangat bergantung padanya.

Dan ternyata..., keledai tengil tidak jadi pergi. Hal bodoh yang dia inginkan tidak terkabul dan tidak dia dapatkan. Tapi apakah dia senang karena tidak mendapatkan apa yang dia inginkan sejak lama, bahkan sebelum dia mengenal anak petani. Mengingat semua yang telah terjadi, anak petani telah memutuskan untuk berusaha mempercayai bahwa yang terjadi adalah yang terbaik, itu kata miss screaming. Dan anak petani telah masuk dalam permainan yang telah dibuat takdir, yaitu keledai tengil.
Keledai bertanya, “masih ingin lanjut?”, tidak ada jawaban. Kita lihat, apakah diorama ini akan berlanjut dan memiliki ending yang cukup menarik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar