Waktu itu, didengarnya cerita numerik si keledai tengil. Mendengar semua
mimpi – mimpinya yang penuh dengan perhitungan, membuat anak petani mengerutkan
keningnya dan berpikir “orang ini memang diciptakan bersama numerik yang
menjadi kata – kata dalam hidupnya.” Semuanya dia hitung serinci mungkin agar
tidak ada satupun rencana yang keluar dari perhitungan. Ini sangat gila! Ya,
dia memang keledai tengil yang sangat mencintai angka atau lebih tepatnya saiko
atas numerik – numerik itu.
Setelah menunggu beberapa waktu untuk mengetahui apakah keledai tengil jadi pergi atau tidak. Anak
petani sedikit kesal atas keinginan keledai tengil yang hampir menjadi nyata,
tapi saat semuanya terasa dekat dan hampir dia dapat, sesuatu telah membuatnya
sedikit tidak menginginkan keinginan bodoh yang sebentar lagi dia dapat. Tapi
apa yang bisa anak petani lakukan? Hanya bisa memberinya sesuatu yang mungkin
tidak berharga, yaitu ucapan “semoga beruntung!”. Belum bisa anak petani
bayangkan untuk dapat jauh dari keledai tengil karena anak petani sudah sangat bergantung
padanya.
Dan ternyata..., keledai tengil tidak jadi pergi. Hal bodoh yang dia inginkan tidak
terkabul dan tidak dia dapatkan. Tapi apakah dia senang karena tidak
mendapatkan apa yang dia inginkan sejak lama, bahkan sebelum dia mengenal anak
petani. Mengingat semua yang telah terjadi, anak petani telah memutuskan untuk
berusaha mempercayai bahwa yang terjadi adalah yang terbaik, itu kata miss
screaming. Dan anak petani telah masuk dalam permainan yang telah dibuat takdir,
yaitu keledai tengil.
Keledai bertanya, “masih ingin lanjut?”, tidak ada jawaban. Kita lihat,
apakah diorama ini akan berlanjut dan memiliki ending yang cukup menarik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar