Selasa, 19 Februari 2013

Saya tak pernah tau cara untuk mendeskripsikannya


Saya tak pernah tau cara untuk mendeskripsikannya. Ini bukan kesal atau putus asa tapi ijinkan saya menuliskan apa yang tidak bisa saya ungkapkan kepada siapapun.

Persetan dengan semuanya, saya akan memakan apa yang ingin saya makan meski wanita itu melarang saya untuk memakannya. Toh semua orang akan mati bukan? Mungkin hanya masalah waktu, siapa yang mati terlebih dulu. Semuanya membuat saya hampir gila, saya benar – benar tidak percaya telah terjebak dalam keadaan yang hampir membuat saya mati lebih dulu dari ibu saya sendiri. Tapi apa akan lebih baik bila saya meninggalkan dunia terlebih dahulu? Mengingat betapa menyebalkannya saya telah mengganggu ketenangan hidup orang – orang dan menyusahkan mereka mungkin saya pantas menerima ini. Pikiran saya ikut – ikutan tak sehat. Selalu berpikir negatif atas sesuatu. Cuma menulis satu – satunya cara untuk mengungkapkan semua yang saya rasakan karena saya tidak tau harus berbagi semua ini dengan siapa.

Cengeng, tukang ngeluh dan manja adalah sifat yang mungkin hanya beberapa orang yang tau tentang itu. Setiap malam saya menghabiskan waktu menatap tembok berwarna biru ini dan memikirkan hal – hal mengenai hidup dan orang – orang. Bernyanyi tanpa syair.

Pernah suatu hari, saking ketakutannya saya tidak mau memejamkan mata saya karena takut ada malaikat pencabut nyawa datang dan mengambil nyawa saya tanpa persetujuan saya terlebih dahulu. Saya sangat ketakutan karena saya merasa belum mempunyai bekal yang cukup untuk melanjutkan hidup di dunia setelah mati. Mungkin waktu itu saya belum menemukan tujuan hidup yang sebenarnya. Sekarang pun saya masih belum menemukan tujuan yang sebenarnya selain untuk menyembah-Nya. Tapi apa benar ada tujuan lain selain itu? Saya menemukannya sewaktu saya memikirkan hal – hal tentang ibu saya, yaa tujuan saya hidup selain untuk beribadah adalah membuat ibu saya dan orang – orang disekitar saya bahagia.

Kau tau, menyenangkan sekali saat kau bisa membuat seseorang bahagia atas apa yang kau lakukan. Memberi tanpa mengharapkan imbalan itu sangatlah menyenangkan. Bisakah saya membuat orang – orang bahagia mengingat kelakuan buruk saya yang membuat orang – orang kesal kepada saya. Masalahnya saya tidak bisa, atau mungkin belum bisa bersikap manis semanis topeng – topeng berjalan itu. Saya hanya berpikir bagaimana cara mengekpresikan apa yang saya rasakan dengan cara yang saya miliki sendiri. Terkadang terlihat salah, bodoh dan menyebalkan tapi selalu keras kepala bila apa yang kita mau itu yang paling benar. Ini sangat aneh ketika apa yang kau tolak dan tidak suka dalam hidupmu datang dan terus mencoba menerobos masuk kedalam hatimu yang masih saja belum bisa menempatkannya dengan benar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar