Saya tak pernah tau cara untuk mendeskripsikannya. Ini bukan kesal atau
putus asa tapi ijinkan saya menuliskan apa yang tidak bisa saya ungkapkan
kepada siapapun.
Persetan dengan semuanya, saya akan
memakan apa yang ingin saya makan meski wanita itu melarang saya untuk
memakannya. Toh semua orang akan mati bukan? Mungkin hanya masalah waktu, siapa
yang mati terlebih dulu. Semuanya membuat saya hampir gila, saya benar – benar
tidak percaya telah terjebak dalam keadaan yang hampir membuat saya mati lebih
dulu dari ibu saya sendiri. Tapi apa akan lebih baik bila saya meninggalkan
dunia terlebih dahulu? Mengingat betapa menyebalkannya saya telah mengganggu
ketenangan hidup orang – orang dan menyusahkan mereka mungkin saya pantas
menerima ini. Pikiran saya ikut – ikutan tak sehat. Selalu berpikir negatif
atas sesuatu. Cuma menulis satu – satunya cara untuk mengungkapkan semua yang
saya rasakan karena saya tidak tau harus berbagi semua ini dengan siapa.
Cengeng, tukang ngeluh dan manja adalah sifat yang mungkin hanya beberapa
orang yang tau tentang itu. Setiap malam saya menghabiskan waktu menatap tembok
berwarna biru ini dan memikirkan hal – hal mengenai hidup dan orang – orang.
Bernyanyi tanpa syair.
Pernah suatu hari, saking ketakutannya saya tidak mau memejamkan mata saya
karena takut ada malaikat pencabut nyawa datang dan mengambil nyawa saya tanpa
persetujuan saya terlebih dahulu. Saya sangat ketakutan karena saya merasa
belum mempunyai bekal yang cukup untuk melanjutkan hidup di dunia setelah mati.
Mungkin waktu itu saya belum menemukan tujuan hidup yang sebenarnya. Sekarang
pun saya masih belum menemukan tujuan yang sebenarnya selain untuk
menyembah-Nya. Tapi apa benar ada tujuan lain selain itu? Saya menemukannya
sewaktu saya memikirkan hal – hal tentang ibu saya, yaa tujuan saya hidup
selain untuk beribadah adalah membuat ibu saya dan orang – orang disekitar saya
bahagia.
Kau tau, menyenangkan sekali saat kau bisa membuat seseorang bahagia atas
apa yang kau lakukan. Memberi tanpa mengharapkan imbalan itu sangatlah
menyenangkan. Bisakah saya membuat orang – orang bahagia mengingat kelakuan
buruk saya yang membuat orang – orang kesal kepada saya. Masalahnya saya tidak
bisa, atau mungkin belum bisa bersikap manis semanis topeng – topeng berjalan
itu. Saya hanya berpikir bagaimana cara mengekpresikan apa yang saya rasakan
dengan cara yang saya miliki sendiri. Terkadang terlihat salah, bodoh dan
menyebalkan tapi selalu keras kepala bila apa yang kita mau itu yang paling
benar. Ini sangat aneh ketika apa yang kau tolak dan tidak suka dalam hidupmu
datang dan terus mencoba menerobos masuk kedalam hatimu yang masih saja belum
bisa menempatkannya dengan benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar