Kamis, 20 Maret 2014

Tentang Puzzle

Di tempat yang ramai tadi, banyak sekali wajah dengan berbagai macam perasaan disana. Terlihat ada wajah gembira karena menemukan sesuatu, ada juga wajah kesal, sedih dan kecewa. Salah satu teman kami sedang berbahagia hari ini, dia genap berumur 21 tahun dan banyak sekali orang yang menyayanginya. Selamat ulang tahun orang jahat!! Haha.. For Andiany Pratiwi.

Di samping kebahagian yang sedang berlangsung tadi, aku melihat kemuraman di salah satu wajah di tempat itu. Ia terlihat kecewa, entah apa yang sedang dipikirkan orang itu. Dia terlihat kesepian dan sepertinya sedang merindukan seseorang, atau mungkin dia sedang menunggu handphone-nya berdering. Ternyata masih ada cerita klasik itu, kesepian ditengah keramaian. Semoga orang itu segera tersenyum tulus, tidak seperti tadi, memaksa tersenyum. Sangat aneh melihatnya seperti itu.

Sampai sekarang aku selalu dikellilingi orang-orang yang aku pikir menyayangi-ku. Bersyukur, terimakasih Tuhan telah memberikan mereka, tapi ada satu orang yang selalu membuat-ku penasaran hingga hari ini. Apa Dia pernah sekali saja mengingatku dalam doa-nya? Apa Dia pernah mengkhawatirkan-ku? Apa Dia pernah merindukan anak tengil ini? 

Aku sudah besar sekarang dan umur-ku hampir 21, apa kau pernah sekali saja mengingat hari kelahiranku? Maaf jika aku terkadang membenci apa yang telah kau turunkan. Warna kulit yang sama, postur tubuh yang mirip, dan tangan yang ternyata dapat menggambar sesuatu yang terkadang indah. Terimakasih sudah memberi-ku semuanya.

Mungkin aku tahu sekarang, dimana potongan puzzle yang selama ini aku cari. Tapi sepertinya aku tidak akan pernah bisa menaruh potongan itu ke dalam puzzle yang mungkin suatu hari akan sempurna. Meski aku sudah sudah tahu dimana potongan puzzle itu berada. 


Waktu-ku untuk keluar dari tahap ini tinggal beberapa langkah lagi. Setelah tahap ini selesai, akan ada tahap baru dimana ujian yang Tuhan berikan akan sedikit, semakin sulit, aku pikir. Tapi semuanya pasti menarik. Tak sabar untuk menantikan apa yang akan terjadi di depan sana. 

Sabtu, 18 Januari 2014

January 19, 2014

Last Sunday was a nightmare, sorry to say this but I don’t know how to call it.

Hari minggu kemarin teteh pergi. Mamah masih tertegun tak percaya ketika dokter berkata bahwa teteh sudah tidak ada di tempatnya. Nadinya sudah tidak berdenyut lagi, cairan infusan kembali mengalir keluar tanda bahwa tubuh teteh sudah tidak dapat menerima cairan apapun. Mamah masih takut menerima kenyataan yang ada di depan matanya, dia melarang siapapun berkata bahwa teteh sudah tiada.

Penyakit yang tidak kenal ampun, menjadikan tubuh teteh lelah untuk menampung teteh. 19 hari teteh tak sadarkan diri dan ending yang harus kita terima dengan lapang dada adalah ini. Dinda bilang, ada sesuatu berbaju putih menunggu teteh sejak semalam. Mungkin memang ini akhir dari perjalanan hidup teteh. Melihat mamah memandikan teteh sambil menangis membuat aku tertegun kembali, mamah memandikan teteh dari dia dilahirkan hingga kembali pada Sang khalik.

Beberapa hari sebelum teteh tak sadarkan diri, teteh berpesan pada mamah untuk menikahkan anak pertamanya secara sederhana karena teteh bilang teteh sudah cape dan lelah. Dan semalam sebelum kepergian teteh, aku bermimpi dengan teteh sambil tertawa bahagia. Dalam mimpi, teteh terlihat sehat dan cantik seperti biasa. Tapi yang janggal adalah, teteh memakai baju putih bersinar. Mimpi yang ternyata pertanda.

Saat tiba di rumah sakit, aku melihat mamah masih duduk terdiam disamping jasad teteh. Aku mendekat dan menyentuh tangan teteh yang terasa masih hangat. Selang oksigen dan infusan belum juga dicabut karena mamah bilang teteh pingsan atau tertidur. Mamah masih belum juga percaya sampai kakaknya datang dan berkata bahwa teteh benar – benar sudah pergi. Baru mamah sadar bahwa yang terjadi di depan matanya ternyata bukan mimpi.

Setelah shalat ashar teteh di shalat-kan lalu segera dimakamkan. Ditengah derasnya hujan kami melihat jasad teteh di kebumikan. Masih terasa seperti mimpi. Aku dan Dinda, anak kedua teteh adalah orang terakhir yang meninggalkan makam. Aku mengingatkan Dede, begitu Dinda di panggil untuk menghitung langkah kami. Satu, dua, tiga, hingga langkah ke enam menuju ke tujuh kami saling berpandangan lalu aku mengangguk untuk meneruskan langkah ke tujuh. Setelah itu Dede berkata bahwa ibunya tadi ada di depannya ketika dia membacakan Yasin di makam. Dede memang sedikit berbeda.

Lalu aku bertanya, “pake baju apa de ibu?”, “pake baju kuning kaya yang di foto”. Ada sedikit perasaan sakit hati saat mendengar itu, entah kenapa. Meski teteh belum diberi kebahagiaan yang benar-benar bahagia selama hidupnya, tapi kami percaya bahwa teteh akan mendapatkan apa yang tidak teteh dapatkan disana. Kami, terutama aku percaya teteh akan diberi tempat terbaik disana, Amin.


Selamat jalan teteh, entah kita akan akan bertemu kembali atau tidak yang pasti kami selalu mendoakan teteh mendapat kebahagiaan disana, dia alam yang kekal dan abadi. Kami sayang teteh.

Sabtu, 04 Januari 2014

Bukankah Mereka Ada?

Ini bukan nightmare ardan atau cerita – cerita Sarasvati, ini cerita tentang kakak perempuan saya.

Kurang lebih sudah sebelas hari kakak perempuan saya atau teteh saya koma di salah satu rumah sakit di Cimahi karena diabetes dan darah darahnya. Hari rabu dua minggu yang lalu, teteh step dan tak sadarkan diri. Semua orang panik tiada dua. Kita semua berpikiran teteh sedang sakaratul, karena nafasnya sudah tidak teratur dan badannya dingin serta kaku. Semua tetangga teteh datang mendoakan, mengaji dan memohon maaf kepada teteh. Melihat teteh yang seperti sedang sekarat, mamah panik. Dan yang bisa dilakukan mamah hanya berdoa serta menangis sambil memegangi tangan teteh.

Masih dirumah teteh, pada sore hari dimana teteh kejang – kejang, dede, anak kedua teteh menunduk dan menangis. Saat ditanya kenapa, dia menjawab, “ada yang mau masuk ke dede, tapi dede ga mau”. Mungkin seseorang yang ingin menolong teteh. Dede memang sedikit berbeda dari anak – anak lainnya. Dia dapat merasakan dan melihat sesuatu yang tidak dapat kita lihat memakai penglihatan biasa.

12 jam, 24 jam.. waktu terus bergulir dan teteh masih saja belum bangun. Badannya kejang – kejang dan mulutnya terus mengeluarkan busa. Akhirnya datang dokter me-nensi darah teteh dan menyuruh teteh untuk dibawa kerumah sakit. Ada satu keyakinan di hati mamah, “teteh tidak sedang sekarat!”. Ya, mamah benar, teteh tidak sedang sekarat, tapi semua orang kita semua harus ihklas dan membekali teteh dengan membisikannya ke telinga agar teteh bisa pergi dengan tenang. Siapa mereka? Beraninya berbicara seperti itu, mereka pikir mereka Tuhan? Malaikat? Teteh masih ada di dalam tubuhnya dan teteh akan segera bangun.   

Tidak pikir panjang, teteh langsung dibawa ke rumah sakit. Memasuki IGD, dokter dan suster langsung mengurusi teteh yang belum juga bangun dan sadar dari mimpinya.  Selang – selang di masukan ke hidung teteh, oksigen, cairan gula, dan darah. Dokter bilang, darah gulanya menurun dan darah tingginya naik, dan teteh sepertinya salah makan. Padahal makanannya sudah dijaga sebisa mungkin, tapi karena teteh sulit diatur, ya inilah yang terjadi.

Jam 3 sore, bapak sekamar teteh di IGD meninggal. Dan dede bilang, bapak itu terus saja melihat teteh dan diam di situ. Sedikit menyeramkan karena saya amat membenci Rumah sakit dan peralatan – peralatannya dari ambulance, suntikan hingga darah termasuk cerita – cerita misteri di balik tempat bernama rumah sakit itu sendiri.

Jam 4 sore dan masih di IGD, belum kering tempat tidur bekas bapak yang meninggal tadi, datang pasien baru. Kali ini ibu tua, kondisinya sudah sangat parah dan tidak sadarkan diri juga. Jam 6 sore, saat adzan berkumandang, semua keluarga ibu itu berteriak dan menangis karena detak jantung ibu tua itu menghilang. Dokter dan suster segera mengejutkannya dengan benda – benda seperti pengejut dan memasukan selang – selang ke mulutnya. Saya tidak tahu persis untuk apa itu. Setelah beberapa saat, akhirnya dokter dan suster keluar dari ruangan dan menetapkan jam ibu tua itu meninggal. Tepat jam 6 sore.

Malamnya, teteh dipindahkan ke ruang inap. Dua hari tidak ada perubahan, hanya respon – respon tangan yang bergerak sesekali. Dokter menyarankan teteh untuk dipindahkan ke ruang ICU. Damn! Worst! It was getting worst!

Di ruang ICU, ada beberapa pasien yang kondisinya sama bahkan lebih parah dari teteh. Bahkan, anak berumur 20 bulan yang menyusul masuk ICU setelah teteh besoknya meninggal. Belum pria yang sudah lama koma sebelah teteh yang besoknya juga meninggal. Lalu besoknya pasien di ujung dekat pintu. Ruang ICU benar – benar suck! Menyebalkan untuk bermalam disana. Intinya teteh belum juga bangun dan.... teteh tidak ada di badannya.

Orang itu bilang, karena banyak orang yang telah “membekali” teteh meski belum waktunya teteh untuk pergi, “mereka” mengambil kesempatan untuk membawa teteh jauh dari raganya. Membawa teteh jalan – jalan dan saat dijemput, teteh tidak mau pulang karena teteh senang berada “disana”. Di dunia dimana “mereka-mereka“ tidak dapat pulang ke asalnya. Pulang ke Penciptanya. Sedikit tidak percaya tapi... bukankah mereka ada?

Jadi dimana teteh sekarang, bukankah dokter bilang teteh sudah dapat dipindahkan ke ruang inap? Tapi kenapa teteh belum juga sadar?


Bagaimana nasib teteh sekarang, atau besok atau lusa. Tidak ada yang tahu. Kita hanya bisa berdoa agar yang terjadi nanti adalah yang terbaik untuk teteh dan kita semua. Saya, mamah, dede dan semua orang sayang sama teteh. Semoga teteh cepat bangun dan sadar, Amin.

Selasa, 31 Desember 2013

9 anak SMP

Ini tentang 9 anak SMP yang saya latih beberapa waktu kemarin.

Ngelatih dance anak SMP itu, susah susah gampang. Sebenernya gampang kalau semua anak yang dilatih punya attitude kaya si leader, Gita. Yup, si Gita ini adalah anak yang ngatur semuanya, dari mulai nyari pelatih buat temen-temennya, ngatur pertemuan kita dll. Dia itu holy.... sekali. Baik dan penurut, ngebangkang tuh kayanya bukan dia sekali. Dia punya kembaran, namanya Gina. Regina dan Regita. Soal latihan dia lumayan cepet nangkep gerakan yang saya transfer. Sopan dan murah senyum.

Anak yang lain namanya Windi. Nah, kalau yang ini selain cepet nangkep gerakan, dia juga paling bagus nge-dance-nya. Diantara yang lain dia yang paling punya basic nge-dance. Sopan, lucu lagi. Dia ramah kaya Gita dan dia anak kedua yang saya suka karena attitudenya lumayan baik. Mukanya sih datar tapi mantap! *ngedance-nya.

Ketiga, Nurul. Rambutnya panjang, item manis dan sedikit pendiam. Dia ga bisa kalau ngedance sendirian, pasti lupa. Keliatan kalau dia emang perna Jaipong, soalnya semua gerakan yang saya kasih jatohnya terlihat tradisional kalau dia yang gerakin.

Next, Fanny. Rambut panjang oval, item manis, poni penuh. Fanny ini bisa dibilang kepaksa buat ngedance. Dia ga punya basic sama sekali. Tapi, dia mau ngikutin buat blajar, itu yang saya suka. Dia berusaha buat ngikutin gerakan2 yang kata dia susah banget. Anak kecil... banget. Jarang ngomong dan lebih pendiem dari Nurul. Ga pernah mau nanya meski dia ga ngerti.

Sarah. Diantara 8 anak yang lain, Sarah emang paling2 bongsor badannya. Mukanya paling songong, dan kadang2 suka asik sendiri kalau lagi ngedance. Tapi anak ini ga nyebelin. Dia termasuk anak yang lumayan sopan, meski caranya ga kaya Gita atau yang lain. Ngedance-nya cukup bagus juga, badannya yang semok ngedukung soalnya. Hehe

Mita. Temen si bitchi Sarah. Di behel, alisnya ngangkat, cantik tapi narinya kurang namun cukup baik karena ramah. Kalau ga ngerti dia bakal langsung nanya dan kalau ada gerakan yang dia ga bisa, dia bakal langsung minta gerakan yang lebih gampang. Sangat demokrasi.

Silvi. Masih temen dari gang bitchi2, kurang lebih sama kaya Mita, Demokrasi. Bedanya, dia ga pernah minta ganti gerakan palingan dengerin dulu pendapat orang baru ngangguk2 setuju.

Next is Agneta atau biasa dipanggil Neta. Cantik, putih, bongsor tapi manja. Dia yang attitude-nya paling amat jelek. Sama sekali ga bisa nari dan jelek banget nari-nya. But, di tengah – tengah dia mengundurkan diri karena hasil nilai TO-nya tidak memuaskan dan ibunya melarang si 
Agneta ini untuk ikut serta dalam pertunjukan seni SMP-nya.

So, datanglah newbee bernama Kiki yang sangat amat cinta sama yang namanya K-Pop. Ga heran dia cepet nangkep gerakan yang dikasih. But, she was very fussy why? Because she always complain about this, that and so on. She said “sis.., my mommy said that the costume was... blah blah blah..” -_____-. She was fun but,, eeewwwww!!

The point is... it was over. I got my money and they got what they want. I am not than naive. It was an interesting experience. I hope I can get another one. Haha. Thanks for that.


Senin, 30 Desember 2013

Rasa ke 5

Dunia itu selalu berjalan diluar nalar kita. Seperti rasa menurut sebuah film pendek .

Ya. Pria itu berkata, secara anatomi ada empat rasa yang dapat dirasakan oleh lidah kita. Manis, asin, asam dan pahit. Pria itu berusaha keras untuk mencari rasa ke lima. Rasa yang dia tidak pernah tahu dimana dia dapat menemukannya. Cukup sulit menurutnya untuk menemukan rasa kelima meski pekerjaannya adalah food taster handal.
Jika dia tidak menyerah dan berhenti mencari apa itu rasa kelima, maka dia tidak akan pernah menemukan rasa kelima. Dengan ulet dia terus mencari apa rasa kelima setelah manis, asin, asam dan pahit. Dan finally, dia pun menemukan rasa kelima. Rasa kelima ialah...

Tuhan selalu memberi kita pilihan untuk memilih rasa apa yang ingin kita coba. Tentang rasa, semua orang pasti ingin hidupnya penuh rasa. Hambar itu seperti makanan rumah sakit. Sebelumnya, mungkin hanya ada empat rasa. Setelahnya mungkin tercipta berbagai macam rasa baru yang dengan secara tidak sengaja diciptakan. Seiring berjalannya waktu yang kita tidak pernah tau dimana ujungnya, kita menemukan rasa baru seperti hambar dan kosong. Mereka adalah rasa dimana kamu tidak menemukan rasa apapun. Tapi layakkah kita memanggil mereka dengan sebutan rasa? Penyelesaiannya adalah sudut pandang kita masing – masing.

Lekukkan itu terasa nyata saat mata tertutup. Sinar mata itu terlihat jujur meski tersimpan banyak misteri dibaliknya. Sentuhan itu terasa hangat meski terkadang dingin. Semua memiliki rasa. Penglihatan, pendengaran, penciuman, dan sentuhan yang memiliki rasa tersendiri. Semua indra kita dapat merasakan rasa. Bahkan semua organ kita pun dapat merasakan rasa. Bukan hanya empat rasa yang hanya bisa lidah kita rasakan manis, asin, pahit dan asam. Tetapi, ke empat rasa yang benar – benar nyata hanya dapat lidah kita rasakan. Kamu juga terasa nyata meski terkadang tidak. Dan ternyata, rasa kelima itu adalah.... Kamu. 

Senin, 02 Desember 2013

Satu Tahun Kemarin



Satu tahun kemarin, tepatnya tanggal 1 Desember. Seseorang datang membawa boneka dan mengalungkan tas kecil Elmo yang didalamnya terdapat sebungkus chacha, butiran – butiran coklat penuh kebahagiaan bagi sebagian anak – anak. Dia memberikan tangannya yang selalu hangat dan mengajak si anak ini ke tempat paling gelap dan menakutkan.

Dia berkata “Orang dewasa itu mengajarkan kepada anak kecil untuk tidak takut apapun”. Dia bertingkah seperti orang dewasa yang sedang mengajarkan anak kecil untuk tidak takut apapun, salah satunya gelap.

Beberapa saat setelah itu, dia membawa 450 bintang dengan 8 bintang tersenyum di dalamnya. Pertanyaannya, kenapa harus 8 bintang yang dia beri gambar senyuman. Dia berkata “Angka 8 itu adalah angka yang anak kecil itu benci, jadi aku akan membuat anak kecil itu selalu tersenyum dalam keadaan yang dia benci”.

Kenangan itu memang terkadang menyenangkan terkadang juga menyebalkan. Seorang gadis pernah bertanya kepada orang dewasa yang sepenuhnya belum dewasa, “Harus kita perlakukan seperti apa sebuah kenangan?”. Dia menjawab, “Jadikan itu sebuah pengalaman bila buruk jadikan itu sebuah harta bila indah”. Dan semenjak saat itu, si Gadis memperlakukan semua kenangan buruk sebagai sebuah pengalaman dan kenangan indah sebagai harta untuk hidupnya yang mungkin suatu saat akan dia bongkar dan dia berikan kepada orang lain.
Semua memori yang terekam dengan dengan jelas tidak mungkin hilang dengan mudah. Sulit untuk melupakan sesuatu yang sudah melekat dengan ingatan. Tersimpan dan trekunci rapat di dalam brangkas penyimpangan memori di dalam otak.

Mari kita kumpulkan harta dan pengalaman sebanyak mungkin. Memperkaya diri bukan hanya dengan materi kan?!

Aku adalah Aku



Kenapa bisa merasa kesepian di tengah keramaian?

Situasi itu kembali. Situasi dimana ruangan biru menguasai perasaan yang memaksa karakter itu datang kembali. Bau tanah menyeruak menusuk pori – pori kulit dan memaksa hidung ini merasakan bau tanah yang basah karena hujan yang tiba – tiba datang. Mengapa sulit sekali menemukan potongan puzzle itu, apa memang potongan itu tidak akan pernah aku temukan?

Semuanya misteri, tidak pernah ada yang tau dimana potongan puzzle itu berada tetapi aku tidak akan lelah mencarinya hingga setidaknya aku menemukan seperempat bagian dari potongan puzzle yang hilang itu.

Saat lelah dan sedikit merasakan putus asa, ada kah orang yang bersedia meminjamkan bahunya untuk menjadi tempat dimana aku dapat melepaskan lelah setelah mencari potongan puzzle yang hilang. Saat memejamkan mata, terlihat gambar itu lagi, gambar berjalan yang telah terekam beberapa tahun kembali muncul dan indah. Indah meski tidak pernah terjadi. 

Anak perempuan itu terlihat bahagia sembari memegang tangan kedua orang dewasa di kanan dan di kirinya. Film yang indah, tetapi menyakitkan.
Apalagi saat membuka mata dan semuanya terasa nyata kembali. Sedikit seperti mimpi tetapi nyata. Seperti berada di dua dimensi yang berbeda. Antara nyata dan mimpi itu ternyata terasa sangat dekat sekarang.  Kotor, jalang dan brengsek. Itu hidup ku sekarang. Entah nyata atau tidak, aku tidak dapat membedakannya sekarang.

Sejenak terpikir pertanyaan konyol, “kenapa?”. Seringkali kalimat ini muncul, kenapa harus menanyakan pertanyaan yang sebenarnya sudah kita temukan jawabannya.
Wajah – wajah mereka terlihat kotor, jalang dan naif. Terlihat kerutan – kerutan ke-jalangan yang berusaha mereka tutupi dengan garis – garis kebaikan. Memuakkan! Mual aku melihatnya. Rasanya ingin aku muntahkan semua makanan yang telah aku telan seharian ini. 

Binatang jalang itu berkata “Heh jalang! Kau pantas mendapatkannya!”. Siapa dia, punya hak apa dia memanggilku dengan sebutan seperti itu. Punya hak apa dia berkata seperti itu kepadaku. Aku memang jalang, tapi aku adalah aku. Bukan anda ataupun mereka.